
hariansuara.com, Jakarta - Pandemi virus corona atau Covid-19 yang mendunia membawa implikasi ke semua sektor termasuk ekonomi, bahkan dampaknya diperkirakan lebih besar dari Global Financial Crisis 2008
"Dampak negatif dari Covid-19 diperkirakan lebih besar daripada Global Financial Crisis 2008, bahkan kemungkinan mengarah pada depresi penuh. Masih akan ada beberapa pantulan kembali dari waktu ke waktu, tetapi karena seluruh industri akan "tutup" dan penyusutan yang signifikan dari sistem keuangan global," kata Dr Giovanni Di Lieto, dosen hukum perdagangan internasional untuk program Sarjana di Monash University.
Dr Giovanni Di Lieto menambahkan Kebijakan moneter ortodoks telah kehabisan jangkauan mereka dan bahkan kebijakan fiskal yang luas dan paket stimulus memiliki efek terbatas dalam skenario depresi penuh.
"Pemerintah harus siap untuk menargetkan dukungan ekstrim untuk rumah tangga dan produsen kecil. Mereka juga harus siap untuk mengambil langkah-langkah anti-kapitalis yang drastis, seperti permintaan pasar, penjatahan komoditas, nasionalisasi industri-industri penting, dan pendapatan dasar universal," katanya
Krisis ini kemungkinan akan memicu perubahan generasi ke sistem ekonomi dunia dan sosial, serupa jika tidak lebih besar dari Depresi Hebat di 1920/30-an.
"Secara jangka panjang, perusahaan tak dapat berbuat banyak untuk melindungi diri mereka sendiri selain dengan mengurangi ketergantungan atau mengoreksi target pertumbuhan pada perdagangan dengan Tiongkok karena instrumen manajemen risiko secara bertahap akan menjadi sangat mahal atau opsinya yang nanti sudah tidak tersedia," imbuhnya
Negara-negara di dunia khususnya di kawasan Asia Pasifik juga harus mewaspadai dampak finansial yang dapat ditimbulkan. Ketika Tiongkok terpojok oleh krisis politik dan ekonomi, opsi isolasi ekonomi mungkin menjadi sebuah godaan yang imbasnya dapat mengacaukan pasar keuangan global karena mempengaruhi likuiditas obligasi AS. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU