Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Perekonomian Nasional dan Regional

Ekonomi & Bisnis
25 Mar 2020
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap  Perekonomian Nasional dan Regional

hariansuara.com, Jakarta - Pandemi virus Covid-19 atau yang umum disebut virus corona di masyarakat kian hari semakin menjangkiti perekonomian Indonesia. Dampak ekonomi akibat virus ini semula hanya menggerus sisi eksternal perekonomian Indonesia melalui kenaikan sejumlah komoditas impor dari China.  Stabilitas perekonomian pun terkena dampak. Nilai tukar Rupiah terus melemah tajam, sementara pasar bursa pun meradang seiring laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi dalam. Pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akan melambat drastis, terkikis oleh penjalaran dampak virus ke berbagai sektor di perekonomian.

Pandemi memang akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, namun tanpa upaya sigap dari pemangku kebijakan untuk selamatkan nyawa penduduk Indonesia, maka optimisme perekonomian tidak akan pernah datang. 

Dalam keterangan tertulisnya, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) belum lama ini,  menyebutkan optimisme dan sentimen positif ekonomi baru akan terjadi jika pandemi Covid-19 dapat diatasi, setidaknya menunjukkan tanda-tanda terkendali dan akhirnya dapat diselesaikan. Jadi, kemampuan Pemerintah dan para pemangku kepentingan ekonomi untuk secara bersama-sama mengalokasikan sumber daya secara optimal menangani masalah kesehatan ini akan sangat menentukan jalannya roda perekonomian ke depan. Tanpa ini sepertinya puluhan jurus stimulus perekonomian pun tidak akan mempan menggeliatkan perekonomian. 

"Pandemi Covid-19 berdampak menurunkan terhadap indikator ekonomi makro nasional, baik jangka pendek maupun jangka panjang pada berbagai skenario. Indikator yang terbesar menurun pada semua kemungkinan adalah indikator konsumsi rumah tangga. Dimana skenario paling besar penurunannya terjadi pada skenario penanganan wabah covid-19 selama 6 bulan lamanya," tulis INDEF.

Penurunan konsumsi rumah tangga ini mendorong GDP riil akan menurun pada semua skenario pertumbuhan ekonomi nasional, dimana masing-masing sebesar 3.60%, 3.58% dan 3.66% dari baseline sesuai tahapan skenario. Artinya GDP riil aktual saat ini terkoreksi oleh besaran tersebut, dimana pertengahan tahun 2020 pertumbuhan ekonomi nasional turun sebesar angka-angka skenario tersebut.

Adapun dampak terhadap regional, secara umum pandemic Covid-19 ini menurunkan PDRB riil di semua provinsi pada semua skenario simulasi. Penurunan ini distimulus oleh turunnya produktivitas sektoral dan menurunkan penyerapan tenaga kerja menurut daerah. Terutama provinsi yang merupakan zona merah, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jatim dan Jateng.

Dampak covid-19 terhadap investasi secara nasional dalam semua skenario simulasi terjadi penurunan. Hal ini distimulus oleh produktivitas industri atau sektoral dan regional yang menjadikan para investor yang semakin menahan investasinya. Paling tinggi penurunannya terjadi pada skenario ketiga, jika penanganannya sangat lama selama 6 bulan.

Pandemi Covid-19 berdampak terhadap kinerja PDRB riil pada semua skenario simulasi, menurunkan ke semua provinsi dengan angka variatif. Hal ini tentunya didorong oleh produktivitas industri daerah provinsi yang kian meluncur turun yang selama ini memberikan kontribusi signifikan terhadap PDRB riil provinsi.

Di level provinsi, kinerja industrinya menurun drastis. Terutama di provinsi termasuk Zona Merah endemic Covid-19. Misalnya, Provinsi DKI Jakarta misalnya, kinerja sektoralnya yang tergerus 3 besar adalah industri peralatan listrik, industri asuransi dan keuangan, dan perdagangan. Demikian juga Jawa Timur, kinerja industri turun 3 besar adalah produk olahan ternak, listrik, dan peralatan elektronik. Pun demikian provinsi lainnya. Hal ini terjadi pada semua skenario.

Berangkat dari hal tersebut maka dari sisi makro; (i) meningkatkan likuiditas terhadap perbankan; (ii) memastikan kebijakan moneter merespon kondisi ekstrim pasar; (iii) menjaga stimulator investasi bekerja secara full dan mendorong investasi public; (iv) hendaknya stimulus fiskal yang efektif dalam menanggulangi pendapatan rumah tangga rentan ke dalam kemiskinan.(*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X