Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Pentingnya Menghindari Krisis Pangan Global Saat Pandemi Covid-19

Ekonomi & Bisnis
24 Apr 2020
Pentingnya Menghindari Krisis Pangan Global Saat Pandemi Covid-19

hariansuara.com, Jakarta - Ketahanan pangan adalah sesuatu yang penting untuk dijaga, baik saat terjadi pandemi Covid-19 ataupun tidak.  Salah satu cara untuk memastikan ketahanan pangan adalah melalui perdagangan antar negara.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan perdagangan dunia kini tengah terancam akibat pandemi Covid-19 yang menjangkiti ratusan negara di dunia. Salah satu yang terpengaruh adalah pangan dan pertanian. Dampaknya antara lain adalah melambatnya produksi, terbatasnya akses transportasi dan logistik akibat ditutup atau dibatasinya saluran distribusi.

“Memastikan ketahanan pangan bagi Indonesia tentu tidak mudah. Indonesia masih berjuang melawan kelaparan pada tingkat “serius”, menurut Global Hunger Index 2019. Kekurangan pangan atau inflasi pangan akan membahayakan penduduk, terutama kaum miskin yang rentan yang bahkan pada hari-hari biasa dapat menghabiskan hingga 60% dari pendapatan mereka untuk makanan,” terang Felippa.

Negara-negara, termasuk Indonesia, memiliki dua pilihan terkait upaya memastikan ketahanan pangannya, yaitu menurunkan atau mempertahankan / meningkatkan hambatan perdagangan mereka. Negara-negara pengekspor harus terus mengekspor komoditas mereka, dan negara-negara pengimpor juga dapat membantu memfasilitasi itu dengan menurunkan hambatan perdagangan. Ini akan mendorong perdagangan pangan dan pertanian global untuk terus berlanjut, walaupun dibayangi adanya tantangan logistik.

Felippa menambahkan, Indonesia membutuhkan kerjasama global walau diikuti adanya risiko berhubungan dengan negara lain yang juga berjuang untuk mengurangi pandemi di negara mereka sendiri. Contohnya saja Vietnam yang telah menangguhkan sementara kontrak ekspor beras baru karena khawatir akan pasokan domestik mereka sendiri

Pemerintah India juga telah mengizinkan pelabuhan utama mereka untuk menghentikan beberapa operasi karena pandemi Covid-19. Indonesia sendiri mengimpor bawang dan daging sapi dari India, dan telah membuat kesepakatan untuk mengimpor 130.000 ton gula pada awal 2020 untuk memenuhi permintaan. Penutupan ekspor berpotensi menyebabkan krisis pangan global karena kekurangan pasokan berkontribusi besar pada kenaikan harga pangan global.

“Di saat yang bersamaan, Indonesia ingin dan perlu mengimpor komoditas pangan lain, tetapi masih berjuang untuk mengimpor karena kebijakan proteksionis kita yang dipaksakan sendiri yang menambah keterlambatan yang mahal. Contohnya, impor gula, bawang putih, dan bawang bombay Indonesia telah tertunda karena kebijakan pembatasan impor dan telah menyebabkan harga melonjak,” tambahnya.

Dalam memastikan ketahanan pangan, koordinasi global dan koordinasi nasional benar-benar diuji oleh krisis ini. Negara-negara harus bekerja sama untuk memastikan pasokan makanan yang stabil. Untuk itu, Indonesia perlu menurunkan hambatan perdagangan untuk mengimpor. Sekalipun skenario terburuk, negara-negara lain tidak bekerja sama dalam perdagangan global, Indonesia masih dapat memperoleh manfaat dari fasilitasi impor yang lebih cepat yang memungkinkan kita untuk membeli ketika harga masih rendah.

Menurunkan hambatan perdagangan juga dapat membantu Indonesia mendiversifikasi negara tujuan impor untuk melakukan perlindungan nilai atas risiko perdagangannya jika negara lain memutuskan untuk menutup ekspor mereka.

Demikian juga berlaku untuk negara, tidak ada untungnya menimbun pasokan makanan dengan menutup perdagangan. Sebaliknya, Indonesia harus bekerja sama dan memastikan bahwa perdagangan pangan global akan berjalan semulus mungkin.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X