
hariansuara.com, Jakarta - Pandemi Corona (Covid-19) memukul sektor ekonomi dunia karena kasus positif sudah melebihi angka 6,3 juta per Rabu, 3 Juni 2020. Efek ini pun juga dirasakan sektor ekonomi Indonesia.
Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan dampak bagi Indonesia terasa karena permintaan agregat global anjlok dan mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi. Namun, ia punya analisis optimis bahwa Indonesia bisa tetap eksis menghadapi pandemi.
Gita menguraikan faktor pertama dengan menyinggung akumulasi dana yang digelontorkan pemerintah untuk bidang pendidikan akan mencapai Rp64.000 triliun.
"Jumlah ini didapatkan dengan berasumsi pemerintah akan tetap mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Dan, pemerintah dapat pertahankan rasio pajak sebesar 11 persen hingga 2045," ujar Gita, dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2020.
Dia menekankan jika pemerintah mampu meningkatkan pendapatan dan pajak maka akan berimbas terhadap rasio pajak. Ia pun yakin dengan pengaruh digitalisasi maka diprediksi akan mempermudah penarikan pajak dari 11 persen jadi 20 persen dalam kurun waktu 25 tahun ke depan.
"Hal ini akan membantu kualitas dan kuantitas pendidikan, dan akan berimbas positif kepada peningkatan kesejahteraan pada umumnya," jelas Ketua Dewan Penasihat di Sekolah Tinggi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik (SGPP) Indonesia.
Pun, ia menyinggung potensi Indonesia yang memiliki demografi muda dengan 50% dari populasi berumur di bawah 29 tahun. Menurutnya, hal ini akan seperti itu hingga 20 tahun ke depan. Menurut Gita, dengan investasi yang tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Maka itu, demografi yang muda dapat membantu meningkatkan daya saing Indonesia jangka menengah dan panjang.
"Tenaga kerja di Indonesia berjumlah sekitar 130 juta jiwa, dan sekitar 95% berada di industri mikro, kecil, dan menengah, yang masuk ke dalam kategori demografi muda. Fokus untuk mendidik seluruh demografi tidak hanya akan membantu memperbanyak jumlah tenaga kerja secara domestik," lanjut Gita yang juga Wakil Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia itu.
Kemudian, Gita melihat, dibandingkan Indonesia, profil demografi dunia justru jadi semakin tua. Dengan demikian, jumlah simpanan akan meningkat secara global. Menurutnya, ini akan menguntungkan beberapa pihak, khususnya para pengusaha, yang membutuhkan modal tentu dengan mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya produktivitas marjinal.
Lalu, selain penambahan dana untuk pendidikan, Indonesia mengalokasikan jumlah yang signifikan terhadap pembangunan infrastruktur. Sebab, rata-rata 15–20% APBN telah dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir.
"Indonesia diestimasikan akan menggelontorkan Rp32.000-Rp48.000 triliun (atau USD2–3 triliun dengan kurs saat ini) untuk pembangunan infrastruktur di dalam 25 tahun ke depan. Hal ini diperkirakan dapat meningkatkan konektivitas, yang akan berimbas kepada produktivitas," ujar Gita.(*) lia/lia
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU