
hariansuara.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 terkontraksi hingga -5,32 persen secara tahunan. Angka ini tercatat turun signifikan dibanding kuartal II-2019 yang tumbuh 5,01 persen.
Dengan data itu, perbandingan secara kuartalan, ekonomi Indonesia pada periode itu mengalami pertumbuhan negatif hingga -4,19 persen. Jauh lebih dalam dibandingkan kuartal II-2019 yang tumbuh 4,01 persen.
Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku ekonomi Indonesia Rp3.687,7 triliun. Pun, atas dasar harga konstan Rp2.589,6 triliun.
Suhariyanto menekankan, kondisi tersebut tak terlepas dari tekanan ekonomi akibat penyebaran pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Efeknya, kinerja industri maupun konsumsi mengalami penurunan drastis.
"Kita tahu Covid-19 berimbas terhadap ekonomi. Dari awalnya kesehatan menjadi masalah sosial dan ekonomi," katanya saat konferensi pers secara live streaming, 5 Agustus 2020.
Dia menambahkan, efek industri terlihat dari gambaran produksi mobil yang hanya 41.520 unit atau turun 85,02 persen secara tahunan. Penjualanannya hanya mencapai 24.042 unit atau turun 89,44 persen secara tahunan.
Pun, menyangkut penjualan sepeda motor secara wholesale pada kuartal II-2020 mencapai 313.625 unit atau turun 79,70 persen secara tahunan. Kata dia, hal ini menggambarkan tingkat konsumsi rumah tangga.
Sementara, laporan BPS juga seperti produksi semen juga anjlok 9,08 persen secara tahunan atau hanya sebanyak 12,68 juta ton. Sedangkan, pengadaan semen dalam negeri anjlok 7,69 persen secara tahunan, menjadi hanya 12,65 juta ton.
"Penurunan ini nanti bisa dilihat dampaknya pada sektor konstruksi yang akan mengalami kontraksi," jelas Suhariyanto.
Dengan kondisi ini, maka pemerintah diminta segera mengeluarkan kebijakan yang memperkuat pasar domestik. Tujuannya agar konsumsi masyarakat bisa meningkat. Pun, kekuatan sektor UMKM harus diperkuat untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga.
Jika kuartal ketiga nanti pertumbuhan ekonomi masih minus maka akan jadi alarm untuk pemerintah Indonesia. Ancaman resesi bisa terjadi di Tanah Air. (*) stm/lia FOTO: Aktivitas warga di Bandung. ANTARA-Novrian Arbi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU