
hariansuara.com, Jakarta - Pandemi corona Covid-19 menggerus sektor ekonomi nasional yang berimbas terhadap kehidupan petani. Pun, kondisi ditambah dengan ancaman resesi terhadap Indonesia.
Merespons itu, Universitas Indonesia (UI) melakukan riset untuk membantu petani hortikultura. Ketua tim peneliti UI, Taufik Asmiyanto menyebut pandemi membuat ancaman darurat pangan terhadap hajat hidup orang banyak.
Menurutnya, rantai pasok produk pangan, khususnya hortikultura cenderung lebih spesifik dibandingkan dengan rantai pasok produk dan jasa lainnya. Pola penanganan pasca panen akan menentukan kualitas produk sayur-mayur pada titik akhir di dapur pebisnis kuliner maupun keluarga masyarakat.
“Sebelumnya kami sudah melakukan diskusi dengan para stakeholder di Depok yang memerlukan kepastian pasokan dan kualitas keamanan pangan. Ini yang jadi perhatian kami,” kata Taufik, dalam keterangan resminya, Jumat, 28 Agustus 2020.
Ia menyebut, produk pertanian terdampak serius oleh COVID-19. Faktor distribusi terhambat akibat kebijakan pembatasan sosial dengan jaga jarak fisik atau physical distancing.
Pun, sejumlah sayuran sepi peminat dan gagal terjual. Sebab, harga jual dari petani sangat rendah.
“Misalnya harga pakcoy sekarang hanya sebesar 300 rupiah per kilogram yang sangat mencekik petani,” ujarnya.
Kata dia, memang sudah waktunya petani perlu diperkenalkan dengan terobosan teknologi informasi. Cara ini penting untuk mendekatkan petani di desa dan konsumen.
“Bukan sekadar marketplace, tim pemasar dan distribusi berbasis komunitas mutlak diperlukan agar produk sayur-mayur cepat sampai di konsumen dalam kondisi baik,” ujarnya.
Kemudian, yang harus diperhatikan adalah tata kelola rantai pasok produk hortikultura. Persoalan ini mesti ada sinergi antara Kabupaten Cianjur sebagai sentra produksi dan Kota Depok sebagai pasar potensial.
Tujuannya untuk menjaga keseimbangan distribusi pangan dengan pola kerjasama antardaerah.
“Sejauh ini hasil dari diskusi yang sudah dilakukan di dua daerah tersebut adalah kejelasan informasi permintaan sayuran dari daerah pemasaran serta kemampuan produksi dan suplai dari daerah penghasil sayuran,” ujarnya. (*) umi/umi FOTO: Pekerja pala/ANTARA-Arif Firmansyah
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU