Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Meski Oktober Sudah Inflasi, tapi Daya Beli Masyarakat Masih Kendor

Ekonomi & Bisnis
02 Nov 2020
Meski Oktober Sudah Inflasi, tapi Daya Beli Masyarakat Masih Kendor

hariansuara.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya inflasi pada Oktober 2020 sebesar 0,07 persen. Kondisi ini jadi perbedaan setelah sebelumnya tiga bulan berturut-turut deflasi atau turunnya harga-harga barang. 

Meski inflasi pada Oktober 2020, namun disebutkan kondisi daya beli masyarakat belum moncer di tengah pandemi.

Kepala BPS, Suhariyanto menjelaskan, kondisi itu disebabkan masih rendahnya inflasi inti. Kata dia, Oktober 2020 inflasi inti hanya 0,04 persen turun. Angka itu cukup signifikan dari posisi September 2020 0,13 persen.

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) mendefinisikan inflasi inti sebagai komponen inflasi yang cenderung menetap di dalam pergerakan inflasi. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental.

Pun, ia merincikan faktor fundamental tersebut yakni interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, dan inflasi mitra dagang.

"Kalau dari kondisi demikian maka bisa disampaikan inflasi inti ini menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih," kata Suhariyanto saat konferensi pers dalam akun Youtube BPS, Senin, 2 Oktober 2020.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut tak terlepas dari kondisi masyarakat golongan 40 persen terbawah saat pandemi ini banyak yang dirumahkan. Selain di rumahkan ada juga pendapatan atau gajinya yang dipotong.

"Hal ini jelas pengaruhi daya beli lapisan bawah yang turun. Bagaimana mau tingkatkan daya beli, ya belum pulih," sebutnya.

Kemudian, ia menambahkan inflasi pada Oktober 2020 karena dipicu kenaikan harga pada komponen harga barang bergejolak. Menurut dia, contoh dalam hal ini seperti peningkatan harga cabai merah, bawang merah dan minyak goreng.

"Inflasi pada Oktober 2020 yang 0,07 persen itu terjadi karena terutama disumbang harga barang-barang yang bergejolak atau volitile price di mana terjadi inflasi 0,4 persen dan sumbangannya ke inflasi 0,07 persen," tutur dia.(*) stm/umi      FOTO: IST/@Investamedia

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X