
Jakarta – Abdullah Firman Wibowo resmi diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Imam Teguh Saptono dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah.
RUPS-LB BNI Syariah juga mengangkat Dhias Widhiyati sebagai Direktur dan mengakhiri masa tugas Kukuh Rahardjo sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI Syariah.
"Kedua direksi baru akan efektif setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan," menurut pernyataan resmi BNI Syariah terkait hasil RUPS-LB diterima di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, BNI Syariah pada 2016 mengalami pertumbuhan bisnis 21,3 persen dengan posisi laba Rp 277,37 Miliar dibandingkan Desember 2015 sebesar Rp 228,52 Miliar.
Kenaikan laba didukung oleh komposisi rasio dana murah (CASA) yang meningkat yakni 47,63 persem lebih baik dari tahun sebelumnya sebesar 46,15 persen dan efisiensi penurunan biaya operasional (BOPO) menjadi 87,67 persen dimana sebelumnya sebesar 89,63 persen .
Sementara dana pihak ketiga meningkat sebesar Rp 24,23 Triliun, atau tumbuh 25,41 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 19,32 Triliun.
BNI Syariah juga mengumpulkan aset hingga Desember 2016 sebesar Rp 28,31 Triliun atau naik 23,01 persen dari posisi Desember 2015 sebesar Rp 23,01 Triliun.
Hal tersebut didukung dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 20,49 Triliun yang terbagi menjadi empat segmen diantaranya ritel produktif dan komersial sebesar Rp 8 Triliun, pembiayaan konsumer sebesar R p10,91 Triliun, pembiayaan mikro sebesar Rp 1,20 Triliun dan kartu hasanah sebesar Rp 367,59 Miliar dengan tetap menjaga kualitas pembiayaan (NPF) di bawah 3 persen.
Pada akhir 2016 pangsa pasar BNI Syariah terhadap industri perbankan syariah sebesar 7,94 persen dengan memberikan kontribusi laba sebesar 13,23 persen.
Dengan begitu, BNI Syariah berada pada peringkat aset terbesar ke-3 di industri perbankan syariah kategori Bank Umum Syariah.
Selain aset, dana pihak ketiga dan pembiayaan juga menempati posisi ketiga dengan NPF masih terjaga di bawah tiga persen dan di bawah rata-rata industri sebesar 4,42 persen.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU