Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

PLTU Tanjung Jati B Gunakan Teknologi Batu Kapur

Ekonomi & Bisnis
22 Aug 2017
PLTU Tanjung Jati B Gunakan Teknologi Batu Kapur

 

hariansuara.com, Jakarta – Umumnya pembangkit listrik menggunakan batubara untuk proses pembentukan uap (pemanasan), namun hal yang berbeda pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B Jepara Jawa Tengah memiliki keunikan dalam proses "Flue Gas Desulfurization" (FGD) dengan memanfaatkan teknologi batu kapur.

 

FGD merupakan proses pencampuran emisi gas hasil pembakaran batu dengan zat pengikat agar kandungan sulfur yang dilepaskan ke atmosfer rendah. Pada umumnya, zat pengikat yang digunakan PLTU yakni air laut

 

"Hingga hari ini PLTU Tanjung Jati B adalah satu-satunya PLTU di Indonesia yang menggunakan teknologi batu kapur," kata General Manajer PLN PLTU Tanjung Jati B Ari Basuki di Jepara, Selasa (22/8).

 

Ari menyatakan PLN sebagai penanggung jawab PLTU Tanjung Jati B berkomitmen untuk mengoperasikan pembangkit secara ekselen, aman dan ramah lingkungan.

 

PLTU Tanjung Jati B, menurut Ari, tidak hanya memenuhi regulasi pemerintah namun berusaha melampaui standar global untuk menjadi perusahaan kelas dunia.

 

Tercatat pada 2012, majalah kelistrikan internasional "Power Magazine" menempatkan PLTU Tanjung Jati B menjadi "Coal-Fired Top Plant" atau enam PLTU terbaik di dunia.

 

Ari menjelaskan, perjalanan PLTU Tanjung Jati B menjadi perusahaan bertaraf internasional tidak mudah salah satunya menghilangkan paradigma pembangkit yang menggunakan batu bara menghasilkan asap udara kotor, hitam dan tidak ramah lingkungan. Penggunaan air laut untuk proses FGD cukup menurunkan konsentrasi emisi sulfur batu bara hingga mencapai 90 persen namun PLN berkomitmen menjaga kualitas udara bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

 

"Batu kapur tetap menjadi pilihan karena bisa menurunkan (emisi sulfur) hingga 98 persen," ungkap Ari.

 

Ari menuturkan, penggunaan batu kapur dalam FGD membutuhkan investasi besar antara 11 persen hingga 14 persen dari "capital cost" dibandingkan air laut yang mencapai 7 persen-10 persen.

 

Investasi peralatan FGD PLTU Tanjung Jati B mencapai Rp1,5 triliun untuk kapasitas 5 x 710 Mega Watt.

 

Selama beroperasi 10 tahun menghasilkan sulfur yang terkandung dalam emisi gas PLTU Tanjung Jati B berkisaran 100 mg per meter kubik (mg/m3) dari baku mutu hang ditetapkan pemerintag saat ini mencapai 750 mg/m3.

 

 Antara

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X