
hariansuara.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian telah memetakan kekuatan yang dimiliki Indonesia dalam upaya memacu produktivitas industri nasional di masa depan, yang berdasarkan laporan dari perusahaan konsultan AT Kearney. Hal ini merupakan bagian langkah untuk memasuki era ekonomi digital dan Industry 4.0.
“Ada delapan faktor yang memengaruhi kesiapan negara dalam future of production, yaitu teknologi dan inovasi, human capital, perdagangan dan investasi global, faktor pemerintah, sumberdaya alam berkelanjutan, daya beli, complexity, serta ekonomi skala,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya, Jumat, (6/10).
Menperin menjelaskan, pada teknologi dan inovasi, Indonesia memiliki kekuatan dari penetrasi internet dan ponsel. Pemerintah Indonesia mendorong industri nasional agar memanfaatkan teknologi terkini dan platform digital.
Terkait sumber daya manusia (SDM), Indonesia memiliki kekuatan dari banyaknya jumlah perguruan tinggi. Pada faktor perdagangan dan investasi global, kekuatan Indonesia di antaranya berada di nilai tarif pajak yang diterapkan, investasi melalui merger atau akuisisi (greenfield investments), dan pemasukan dari penanaman modal asing.
Dari faktor pemerintah, Indonesia memiliki anggaran belanja yang cukup besar dan kepastian sistem hukum yang dapat mendorong peningkatan kinerja industri domestik. Misalnya, implementasi pada proyek strategis nasional seperti pembangunan infrastruktur dan terbitnya sejumlah paket kebijakan ekonomi.
Mengenai sumber daya alam berkelanjutan, Menperin menyampaikan, Indonesia memiliki beragam energi alternatif yang berpotensi untuk dikembangkan.
Untuk daya beli, pemerintah meyakini masyarakat Indonesia masih memiliki daya beli yang kuat. Meskipun disebutkan ada pergeseran transaksi dari offline ke online, data menunjukkan kenaikan penggunaan jasa kurir hingga 130 persen di akhir September ini.
Pada faktor kompleksitas, Menperin menjelaskan, Indonesia termasuk negara berkembang yang mampu menciptakan beragam produk dari sebuah sistem ekonomi.
Sedangkan, ekonomi skala, bisa dilihat dari nilai tambah yang dihasilkan oleh manufaktur domestik. Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added atau naik dari peringkat tahun sebelumnya di posisi ke-10. Peringkat ke-9 ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU