
Hariansuara.com, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto menyebutkan, ancaman krisis pangan sudah semakin dekat. Tanda-tandanya sudah tampak.
"Indikatornya ada tiga. Semakin sempitnya lahan, semakin sulitnya mencari lahan baru untuk tanaman pangan dan semakin tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk", papar Hermanto pada acara Launching Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah di Jorong Koto, Nagari Sei Nanam, Kecamatan Lembah Gumati, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, beberapa hari yang lalu.
Menurutnya, krisis bisa dicegah atau setidaknya bisa dihambat lajunya dengan inovasi. "Inovasi di bidang sains dan teknologi sangat berperan dalam mencegah krisis", ucapnya.
Teknologi terapan Instore Dryer yang ada di kawasan bawang merah ini, tambahnya, merupakan salahsatu inovasi tersebut. "Dengan Instore Dryer, proses pengeringan bisa berlangsung lebih cepat. Semula dibutuhkan waktu 20 hari. Kini dengan teknologi tersebut, hanya butuh 5 hari saja," paparnya.
Kemajuan pertanian, lanjutnya, tergantung pada litbangnya. Litbangnya maju maka pertanian juga maju. Litbang harus didorong agar melakukan riset dan pengembangan sesuai kebutuhan sektor pertanian. "Outputnya harus aplikatif. Berorientasi pada teknologi terapan", ujar Hermanto.
Hadir juga dalam kegiatan ini Bupati Solok Gusmal. Bupati hadir meresmikan Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah ini. " Solok dicanangkan sebagai sumber bibit bawang merah untuk Pulau Sumatra", kata Gusmal dalam sambutannya.
Di Solok, lanjutnya, saat ini ada lahan bawang merah seluas 7000 hektar. "Solok diminta oleh Menteri Pertanian agar memiliki kawasan bawang merah seluas 10 ribu hektar. Target luasan tersebut semoga bisa dicapai pada tahun 2019", paparnya.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU