
hariansuara.com, Jakarta - Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Ekonomi Nasional Palestina Abeer Odeh menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdagangan barang yang menerapkan bea masuk 0% bagi kedua negara.
Penandatanganan ini dilakukan dalam pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ke-11 di Buenos Aires, Argentina, Selasa (12/12).
Langkah membuka akses pasar merupakan salah satu dukungan ekonomi yang diberikan Indonesia kepada Palestina. “Penandatanganan ini merupakan bentuk dukungan Indonesia terhadap Palestina di sektor ekonomi sesuai mandat Presiden RI Joko Widodo. Ketentuan ini akan berlaku per Januari 2018,” jelas Mendag dalam siaran persnya.
Penerapan bea masuk 0% bagi Palestina dimulai dengan kurma dan minyak zaitun. “Pada tahap awal, Indonesia akan membuka akses pasar bagi Palestina dengan menerapkan bea masuk 0% untuk produk kurma dan minyak zaitun. Sebelumnya, bea masuk kedua komoditas tersebut sebesar 5%,” jelas Mendag Enggar.
Palestina juga akan menerapkan hal yang sama bagi produk-produk Indonesia. Indonesia meminta Palestina membuat daftar produk-produk yang bisa dieskpor ke Indonesia dan yang perlu diimpor dari Indonesia.
“Indonesia siap untuk mengekspor produk-produk tersebut dengan tarif bea masuk 0%. Dengan demikian, rakyat Palestina dapat menikmati produk dengan harga yang murah. Produk-produk Indonesia yang berpotensi untuk diekspor ke Palestina, antara lain bahan makanan, produk plastik, dan permesinan,” tandas Mendag.
Selain membuka akses pasar dalam negeri, Indonesia juga berupaya membantu Palestina untuk menjadi anggota tetap WTO. Proses penerimaan Palestina menjadi anggota WTO saat ini masih terhambat. “Indonesia melalui Duta Besar di WTO akan membantu proses aplikasi dan penerimaan palestina menjadi anggota WTO,” kata Mendag.
Selain dengan Palestina, Indonesia dan Chile juga telah melakukan penandatanganan Indonesia Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) di Santiago, Chile pada Kamis lalu (14/12). Penandatanganan ini merupakan perjanjian perdagangan barang pertama Indonesia di Amerika Selatan.
Indonesia juga membuka peluang kepada Chile menjadi alternatif sumber impor untuk produk susu dan daging. “Indonesia membuka peluang terhadap Chile menjadi alternatif sumber impor untuk produk susu dan daging selain Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Indonesia juga mengajak Chile untuk berinvestasi di Indonesia untuk produk susu,” kata Mendag.
Sementara itu, menanggapi keinginan Selandia Baru untuk melakukan perjanjian perdagangan barang dengan Indonesia, Mendag mengatakan menyambut baik hal tersebut. Target Maret 2018 Selain itu, Mendag Enggar juga bertemu Menteri Perdagangan Australia Steven Ciobo. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas kelanjutan perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
“Di pertengahan Januari 2018, tim negosiasi akan bertemu lagi dan harus sudah bisa menyelesaikan perundingan IA-CEPA. Diharapkan perjanjian sudah bisa ditandatangani saat kunjungan Presiden RI ke Australia bulan Maret 2018 mendatang,” ungkap Mendag Enggar.
Bagi Indonesia, IA-CEPA dimanfaatkan untuk mengembangkan sebuah kemitraan yang bermanfaat bagi pembangunan dan daya saing ekonomi. Salah satu bentuk kemitraan yang telah berhasil diidentifikasi misalnya di sektor pendidikan.
Mendag Enggar juga menghadiri beberapa pertemuan bilateral lainnya. Salah satunya adalah pertemuan dengan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lim Hng Kiang, Minggu (10/12).
Kedua menteri membahas beberapa isu, salah satunya upaya penyelesaian perundingan Regional Comprehensive Economic Agreement (RCEP). Singapura, yang pada tahun depan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara ASEAN, juga berkonsultasi dengan Indonesia tentang arah pertemuan ASEAN ke depan.
Sementara, dalam pertemuan bilateral dengan Kepala Departemen Ekonomi, Pendidikan, dan Riset Federal Swiss Johann N. Schneider-Amman, Selasa (12/12), Indonesia meminta agar Swiss tidak menghambat akses pasar barang-barang Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.
Pertemuan tersebut juga membahas proses perundingan Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (EFTA CEPA). (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU