hariansuara.com, Jakarta - Viu, layanan video over-the-top (OTT) yang dioperasikan PCCW Media mengumumkan pemenang ajang Viu Pitching Forum (VPF) 2019 di Hotel Aryaduta Lippo Village, Karawaci, Sabtu (30/3).
Aaron Timothy dengan Ide cerita komedinya berjudul Star Stealer terpilih menjadi pemenang. Star Stealer menjadi setelah dilakukan serangkaian kegiatan audisi berupa Dialog Film di 10 kota di Indonesia dan menerima ratusan ide cerita. Star Stealer akan segera diproduksi menjadi Viu Originals.
Aaron Timothy Soeharto atau biasa disapa Aaron Hart ini seorang mahasiswa film tingkat ahkir di Universitas Multimedia Nusantara. Salah satu hobi yang ditekuni adalah membuat film. Hobi ini mulai muncul pada tahun 2013, saat duduk di bangku SMA, dimana dia menjabat menjadi ketua ekstrakulikuler teater dan sering mendokumentasikan pentas-pentas teater.
Dari dokumentasi tersebut dia mencoba membuat beberapa video-video pendek dengan narasi sederhana. Alhasil salah satu video pendek teresebut memasuki FLS2N tahun 2014 (Festival Lomba Siswa Seni Nasional) dan mendapatkan juara 1 di Jawa Timur dan juara 3 di kancah nasional.
Aaron mengatakan dari sana lantas drinya memilih film menjadi jalan hidup dan profesi. Kemudian aku pun masuk ke Universitas Multimedia Nusantara. Karena pernah memenangkan festival pelajar nasional aku pun merasa diatas angin dan lebih menonjol dibanding kawan-kawan sebayaku.
"Namun nyatanya dalam membuat sebuah film aku masih jauh dari predikat bagus. Bersama teman-temanku ahkirnya kami mencoba mengasah kemampuan mengikuti beberapa perlombaan. Kami membuat sebuah Production House kecil bernama Dayura untuk menampung niat kami," katanya.
Dayura menghasilkan beberapa prestasi, diantaranya memenangkan lomba film yang diadakan oleh World Education Festival pada tahun 2017, dan memenangkan lomba Talavition pada tahun 2017. Hal itu memberikan dirinya kesempatan untuk magang di bawah PT Kalyana Shira. Produksi Switch oleh VIU merupakan tempat magang tersebut dan merupakan produksi pertamaku. Kembali aku merasa tidak tahu apa-apa dan harus menimba ilmu sebanyak-banyaknya karena produksi Switch ini.
Kemudian produksi berakhir dan aku melanjutkan kuliah. Di penghujung tahun 2017, Kalyana menghubungiku dan memintaku menjadi asisten sutradara dalam sebuah produksi film pendek Papa papi. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakannya. Bagiku yang sudah pernah menjadi astrada dalam web series film pendek pasti akan gampang dikerjakan. Kembali aku salah dalam menilai dan tidak berjalan selancar ekspektasiku. Namun produksi selesai dengan hasil yang cukup memuaskan.
"Alasan aku bilang memuaskan adalah pada pertengahan tahun 2018 PT Kalyana Shira kembali memanggilku untuk menjadi astrada. Kali ini merupakan sebuah produksi yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Yakni produksi Halustik. Shooting dilakukan hingga ke Nepal dan dilakukan selama 30 hari berturut-turut. Untunglah produksi bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan sebuah karya yang membanggakan," tuturnya.
Tidak lupa, salah satu film pendek yang dibuatnya masuk ke dalam festival internasional yakni Bali Film Fest. Film itu berjudul Gayphone!. Cerita ini terinspirasi dari salah satu kenalanku di Switch. Ceritanya sederhana: berlatar di tahun 2001, film ini bercerita tentang seorang queer yang berada di daerah pelosok dan ingin mencari pasangan dengan cara menuliskan nomor hpnya di selembar uang kertas. Namun orang-orang yang menelponnya bukanlah orang-orang yang ia cari.
Satu hal yang aku pelajari adalah sebagai milenial aku merasa cepat puas dan sombong, merasa lebih hebat dibanding yang lain. Perasaan tersebut yang akan di tonjolkan dalam Star Stealer, sebuah cerita mengenai seorang gadis yang menjual barang-barang milik artis agar dapat keluar dari situasinya yang sekarang yakni kebangkrutan ayahnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU