
hariansuara.com, Jakarta – Berita yang dibroadcast dari whatsapp pagi tadi mengabarkan musisi asal Surabaya, Jatim, Leo Kristi tutup usia setelah sekian lama sakit di Bandung.
Sekali lagi dunia seni Indonesia kehilangan lagi musisi terbaiknya, Minggu (21/5) dinihari. Jenazah musisi bernama lengkap Leo Imam Sukarno itu diberangkatkan pukul 05.30 WIB dari Rumah Sakit Immanuel, Bandung ke rumah salah seorang adiknya, Boni, di kawasan Jatiwaringin Asri, Jakarta Timur.
Sekitar tiga minggu, Leo Kristi dirawat di rumah sakit tersebut. Bersama rekannya alm Gombloh dan Franky Sahilatua, mereka mendirikan band Lemon Trees dengan aliran rock. Ia dikenal sebagai musisi jalanan. Ia merasa menemukan “pengembaraan” musikalnya lewat perjalanan panjang menjelajah kota-kota di tanah air.
Ketika memisahkan diri dari Lemon Tree’s, Leo Kristi lebih suka tampil dalam konser dengan jubah hitam di panggung. Ciri khas lagu-lagu Leo adalah lagu balada.
Dunia music bagi Leo adalah hidupnya. Karena sejak kecil ia terbiasa tenggelam dalam alunan musiuk. Sang ayah, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, pensiunan pegawai negeri adalah seorang musisi. Sejak kecil, Leo sudah aktif dalam kegiatan kppr di gereja, meski ia seorang muslim. Karena ia bersekolah di SD Kristen, Surabaya pada tahun 1961.
Ia mengaku, musik baginya adalah sahabat. Ia akan menyambut nyanyian sebagai sesuatu kecintaan.
Ayahnya membelikannya sebuah gitar saat ia duduk di SMP. Ia dengan bersemangat ikut kursus musik Tony Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Sedang dalam hal menyanyi ia berguru pada Nuri Hidayat dan John Garang.
Ia juga pernah kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Tan Ek Tjoan. Dua gitaris yang diakuinya cukup memberi pengaruh pada musiknya. Di SMAN 1 Surabaya, ia tidak lepas dari kewajiban berbaris dan ikut menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan.
Leo bergabung dalam band sekolah beraliran rock n’ roll bernama “Batara” yang beranggotakan teman-temannya dari SMA: Ratno, Karim, Soen Ing, John Kotelawala, Andre Muntu, dan Harry Darsono.
Mereka kerap menyanyikan lagu-lagu milik The Beatles.
Sebelum menjadi musisi, Leo pernah menjadi penjual buku Groliers American Books. Pernah jadi karyawan pabrik cat Texmura. Juga menjadi penyanyi di restoran China `Oriental` dan `Chez Rose` (1974-1975). Ia biasa menyanyi di LIA dan Goethe Institut Surabaya.
ia kemudian gabung dalam grup yang ia beri nama `Konser Rakyat Leo Kristi` (KRLK) bersama Naniel Yakin, Mung Sriwiyana, serta kakak beradik Lita Jonathans dan Jilly Jonathans.
Di album keempat (Nyanyian Cinta), Lita dan Jilly Jonathans digantikan oleh Titi Sutopo / Titi Ajeng/ Titi Manyar. Di album ke-5 Yayu masuk formasi, selain Titi, Mung, dan Naniel, namun nama Yayu tidak ada lagi pada.
Kini, musisi dengan suara lantang dan bersemanat ini hanya tinggal kenangan. Ia menyusul sahabat-sahabatnya yang lebih dulu kembali ke haribaan Tuhan. Selamat jalan. Beristirahatlah dengan damai, Leo ! (Bahan dari berbagai sumber)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU