hariansuara.com, Islamabad - Menari adalah satu cara manusia menyatakan dunianya, dari mana dia berasal dan pikiran-pikiran yang menyertainya. Demikian penjelasan Wiwiek Wiryanti Wiratha pemimpin sanggar Tirtha Bali pada saat menerangkan tari Legong Keraton Lasem kepada komunitas tari Pakistan.
Tarian klasik Bali tersebut diperkenalkan oleh Wiwiek dan beberapa penari Indonesia di kelas Folk Dance di Islamabad pada 20 November 2017. Kelas tari ini dikelola oleh Lok Virsa, sebuah lembaga kebudayaan prestisius milik Kementerian Penerangan dan Warisan Budaya Nasional Pakistan.
Dua hari sebelumnya Tirtha Bali menjadi bintang pada acara resepsi diplomatik yang diselenggarakan oleh KBRI Islamabad di salah satu hotel terkenal di Islamabad. Pertunjukan tari Bali menggugah Dr. Feriyal Aslam, asisten profesor di Pakistan Institute of Development Economics (PIDE) sekaligus seorang penggiat tari, untuk memperkenalkan tari Legong Lasem kepada komunitas tari Pakistan di Lok Virsa. Inisiatif ini dilakukan untuk saling memahami budaya kedua bangsa.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap tari Bali, Indu Mitha seorang guru tari klasik dan koreografer senior Pakistan yang terkenal, turut hadir di kelas tari Legong Lasem. “Gerakan gemulai, luwes dan lentur tarian ini berpadu secara harmoni dengan musiknya yang cepat”, tutur Mitha dalam keterangan tertulis KBRI Islamabad yang diterima hariansuara.com. Sementara Iftikar, ketua grup folk dance Lok Virsa sangat tertarik dengan cerita epik yang melahirkan tarian tersebut.
Kelas tari Legong Lasem tersebut mendapat tanggapan positif dari 15 siswa peserta maupun pengelola Lok Virsa. Mereka mengharapkan KBRI Islamabad dapat memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada mereka untuk mengenal beragam jenis tarian Indonesia lainnya.
Sebagai tindak lanjut kelas tari dan merespons permohonan komunitas tari Pakistan tersebut, ke depan KBRI Islamabad akan mengadakan sebuah workshop tari yang melibatkan penari Indonesia dan Pakistan dalam upaya untuk saling mengenal dan memperkaya khasanah tarian. “Tarian adalah jembatan perekat kedua bangsa”, kata Feriyal.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU