
hariansuara.com, Jakarta - Yang namanya gagal, rasanya pasti menyebalkan. Anda sepakat? Itulah yang umum dirasakan ketika gagal dalam ujian, gagal berbisnis atau gagal dalam hal cinta. Kegagalan tak urung jadi musuh bebuyutan. Tapi, tunggu dulu. Kata pakar life skills, gagal itu seharusnya disambut dengan senyuman. Lho? Penasaran, silakan baca sampai selesai.
Kriteria gagal bagi orang per orang berbeda-beda. Ada mahasiswa perfeksionis yang merasa gagal ketika hasil ujiannya ada 1 nilai B+. Tetapi ada juga yang langsung merasa gagal, karena telah salah mengetik nama temannya di whatsApp group.
Merasa gagal adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, bila keliru mengelolanya, justru Anda akan terlilit olelh emosi negatif itu. Jangan biarkan ini terjadi. Segeralah keluar, cari teman untuk membahas kesalahan Anda yang membuat Anda merasa gagal.
Bahaya bila mengabaikan emosi negatif, karena suatu saat bisa melebihi ambang batas, lalu meledak. Bila ini terjadi, pastinya itu akan merusak hubungan Anda dengan orang-orang terdekat--keluarga, anak dan pasangan. Relasi dengan lingkungan sekitar pun bisa runyam. Apa yang harus dilakukan?
Pertama, akui sejujurnya kesalahan yang Anda rasakan menghimpit yang dirasakan sebagai kegagalan. Ingin menangisinya? Lakukan saja, tapi tentukan berapa lama waktu untuk menangisi kesalahan itu. Ingin marah, ngambek atau mungkin jalan-jalan untuk melepaskan rasa bersalah itu, sah saja. Yang penting, akui kesalahan Anda agar bisa move on, emoisi negatif tidak timbul-tenggelam tersebut akan menetap di alam bawah sadar. Timbul-tenggelam, terus menghantui. Ini berbahaya untuk kesehatan batin Anda.
Kedua, lihat ke sekeliling Anda. Orang sukses sekalipun tak luput dari kesalahan. Jadi, tak perlu gusar karena berbuat salah. Bicaralah dengan sahabat yang Anda percayai, dan bahas penyesalan akan kesalahan Anda. Ketahuilah merasa salah dan gagal telah menorehkan luka batin. Dengan mengakui kesalahan itu berarti Anda berusaha menyembuhkannya.
Ketiga, tiru langkah orang sukses. Mereka melakukan introspeksi, mengakui kesalahan, lalu memetik pembelajarannya yang digunakan sebagai bekal untuk move on.
Sebaliknya, seorang yang gagal tidak mau mengakui kesalahannya, melainkan mengabaikannya, karena dia takut gagal lagi bila melalui jalan semula itu. Alhasil, ia tak berani move on. Ia membiarkan rasa salah itu melilit dirinya, yang pada akhirnya melumpuhkan nyali dan semangatnya untuk memperbaiki diri.
Anda merasa demikian pula? Sebaiknya banyak baca simak biografi orang-orang sukses di dalam dan luar negeri. Mereka sejatinya jatuh bangun, berdarah-darah, hingga akhirnya berhasil mencapai kesuksesan. Bila saja Thomas Edison mudah patah arang, pasti dunia ini berada dalam kegelapan, tiada listrik. Edison seorang ilmuwan besar, maka sikap mentalnya pun juara. Meski 6.000 kali gagal, ia terus bangkit hingga akhirnya lampu berhasil menyala berkat listrik temuannya.
Ditimbang-timbang, kegagalan itu tidak selamanya buruk. Justru kegagalan itu telah mengasah life skills Anda untuk menghadapi ujian-ujian di masa mendatang. Katakan, Anda gagal menembus bidding suatu proyek. Padahal Anda sudah membuat perencanaan begitu seksama. Tetapi harus diakui, ada peserta bidding lainnya yang lebih sehingga dia memenangkan proyek itu.
Begitulah realitanya, dunia tidak bisa diatur oleh manusia. Tidak juga oleh Anda. Maka, yang bijak adalah menamengi diri dengan kemampuan untuk menerima kenyataan, menang atau kalah, sukses atau gagal. Ini life skill penting agar Anda kuat menaklukkan dunia. Selain itu, kemampuan Anda membuat perencanaan, juga kepekaan mengoreksi diri melalui analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat). Tanpa dibumbui dengan emosi negatif.
Percayalah, gagal kali ini, petik pelajarannya, dan terus move on, karena di depan sana terbuka peluang emas untuk berbilang kesuksesan Anda. Hidupkan cita-cita dan angan yang besar, sambil mengakui bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan. Bisa saja Anda mematok target sangat tinggi, tetapi kaki tetap memijak ke bumi, sebab tiada yang tahu potensi dirinya bila tak 'bertanding'.
Optimis dan percaya dirilah selalu bahwa hari esok akan lebih baik. Kalaupun suatu ketika menemui kegagalan lagi, tidak usah panik. Kembali berpegang pada proses move on setelah gagal: Terima realita gagal dengan gagah, cermati titik-titik kesalahannya, akui, pegang ilmunya, lalu melangkah ke depan.
Ingat, Anda manusia biasa. Kata orang bijak, manusia tempatnya salah. Untuk itu, selain berikhtiar, sertakan Sang Khalik selamanya dalam melangkah. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU