
hariansuara.com, Jakarta - Waktu dalam satu hari adalah 24 jam atau 1.440 menit atau 86.400 detik. Sifat waktu adalah tidak bisa disimpan, hanya bisa berlalu, tidak akan kembali, berlaku sama kepada semua orang dengan hak yang sama, tanpa diskriminasi, gratis sepanjang hidup.
Bergantung pada cara menyikapi, waktu bisa bernilai tinggi dan sangat berharga, sebaliknya juga bisa tanpa arti. Waktu, bagi orang tertentu, bisa ia lipatgandakan dengan mendelegasikan tugas dan kewajibannya kepada pihak lain, sejauh dipandang perlu dan timpal.
Bagi sebagian orang, ketika kehidupan lahir dan batinnya sedang terpuruk dan hancur lebur, waktu serasa banyak dan panjang yang setia menemaninya.
Bagi sebagian lainnya, ketika kehidupan lahir dan batinnya mencapai kebahagiaan dan kesukariaan, waktu serasa sedikit dan lekas berlalu.
Waktu bersikap sama terhadap semua orang, sebaliknya tidak semua orang bersikap sama terhadap waktu.
Inilah jawaban mengapa kesuksesan dan kabahagiaan berbeda untuk setiap orangnya.
Jika orang membiarkan waktu berlalu begitu saja, mengisi waktu dengan berfoya-foya, mabuk, berjudi, gosip dan usil dengan urusan orang lain, mengkonsumsi waktu hanya untuk kesenangan indrawi, ketagihan hiburan, makanan, permainan, sosial media, sang kala, yaitu sang waktu, akan memakannya secara cuma-cuma. Ia merana di kala tua.
Jika orang sibuk hanya pada mencari kekayaan materi, peduli hanya pada mencari kedudukan haus hanya pada mencari kekuasaan, ia adalah orang hampa, bak padi tak berisi.
Jika orang tekun belajar dan melatih diri di setiap saat untuk memahami hidup dengan baik dan benar. Teguh dalam upaya memadamkan hal-hal buruk demi terlepas dari derita, kebahagiaan akan datang padanya tanpa perlu diundang.
Dan, ia disebut orang yang bisa menghargai waktu, memiliki waktu bernilai tinggi. Waktu menjadi tidak berharga, jika digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Waktu menjadi berharga rendah, jika digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat.
Waktu menjadi berharga tinggi, jika digunakan untuk belajar dan berlatih memahami hidup dengan baik dan benar. Sang waktu menggiring setiap insan fana ke ketuaan dan kematian.
Sang waktu memakan segalanya, termasuk memakan dirinya sendiri. Sudahkah kita berpacu dengan sang waktu melalui mengisi hidup secara optimal dan timpal?
Teng Hui, Inspirator
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU