
hariansuara.com, Jakarta - Dendam adalah keinginan keras untuk membalas dengan keburukan atau kejahatan. Pada prinsip dasarnya, dendam mendatangkan kerugian bagi diri sendiri.
Dengan mendendam, dengan membalas dengan keburukan atau kejahatan, penderitaan lahir dan batin menimpa diri sendiri, bak menimpukkan tinja dengan tangan sendiri, laksana membersihkah lantai kotor dengan air ludah, terlepas dari target yang dituju menjadi sengsara ataupun tidak.
Celakanya, tidak sedikit orang beranggapan bahwa dendam adalah sumber kebahagiaan dengan berpikir bahwa kebahagiaan akan bisa dia raih setelah dendam terlampiaskan.
Anggapan demikian tanpa didasari kearifan, cenderung menyesatkan.
Kenyataannya, tidak ada seorang pun bisa damai dan bahagia hati dengan menyimpan dan melampiaskan dendam, semuanya berakhir dengan penderitaan dan kesengsaraan bagi diri sendiri.
Sesal kemudian sudah terlambat, nirguna; keburukan yang telah dilakukan tak bisa diurungkan, buah keburukan yang menimpa tak bisa dielak.
Dendam berawal dari rasa kecewa atau iri-hati. Kekecewaan dan iri hati menumbuhkan iritasi dan benci. Karena ada iritasi dan benci, tutur kata dan tindakannya tidak terpuji: menjelekkan, menghasut, menfitnah, menjatuhkan, menyingkirkan, menyakiti, atau bahkan membunuh, terlepas objek iritasi dan kebenciannya itu berposisi benar atau pun salah, berperangai baik atau pun buruk.
Kerugian dan kesengsaraan yang menimpanya karena perbuatan buruknya itu bukanlah diusung oleh pihak yang dibenci, melainkan karena kreasi diri sendiri.
Sikap tegas dari seseorang tidak harus berarti ada muatan dendam. Ketegasan demi menegakkan aturan, demi menjalankan kesepakatan, adalah sikap konstruktif dan positif. Sebaliknya, dendam adalah sikap destruktif dan negatif.
Jika sadar bahwa diri sendiri mencintai diri sendiri, jika sadar bahwa diri sendiri cukup punya kecerdasan, tak sepatutnya diri sendiri membiarkan rasa dendam mencengkeram di dalam. Orang yang bijak niscaya peduli dengan keberadaan diri, baik untuk kehidupan di saat ini maupun kehidupan di waktu nanti.(*)
Teng Hui, Inspirator
(Foto: Ilustrasi / Istimewa)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU