Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Tugas Orang Tua Mendidik Anak Mencintai Al Qur'an

Inspirasi
04 Oct 2019
Tugas Orang Tua Mendidik Anak Mencintai Al Qur'an

hariansuara.com, Cibinong - Menjadi kegiatan rutin para ibu di Griya Pondok Rajeg di kawasan Cibinong, Jawa Barat untuk membekali diri dengan ilmu agama Islam. Hal ini terkait dengan upaya menguatkan orang tua dalam menjalankan tugas mulianya mendidik dan menyiapkan anak-anaknya menyongsong masa depan. 

Peran sebagai orang tua (parenting) bukan hal yang mudah, terlebih di era sekarang di mana miliaran informasi berseliweran di sekitar kita, sehingga bila tidak berhati-hati, dapat membahayakan anak-anak kita. Untuk itu, para ibu yang tergabung dalam Majelis Nisaaul Jannah belajar di Musholla Darul Izzah tentang parenting dari Ustadzah Hj Agustin Kurniawaty, SPd. Tema bahasan kali ini tentang mendidik anak untuk mencintai Al Qur'an. 

Tiga hal penting yang mendasari pentingnya kita mendidik anak mencintai Al Qur'an, yaitu hadits Rasulullah yang dihimpun oleh HR Bukhari Muslim:

. خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Khairukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamahu.

Artinya: Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.

Yang pertama, mengajarkan anak mencintai Al Qur'an berarti menjadikan kita sebagai orang tua yang terbaik bagi si buah hati. Untuk itu orang tua terlebih dulu wajib mencintai Al Qur'an agar dapat menularkan kecintaan kepada Al Qur'an tersebut kepada anak-anaknya.

Kedua, menanamkan kecintaan kepada Al Qur'an berarti melahirkan generasi Rabbani. Apa yang dimaksud generasi Rabbani? Tafsir Surah Ali Imron Ayat 79 bisa menjadi penjelasannya: 

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Artinya: Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Yang dimaksud dengan generasi Rabbani adalah mereka yang mengetahui Agama Allah, berpegang teguh dalam ketaatan kepada Allah, memiliki pemahaman tentang ilmunya, kelembutan dan hikmahnya. Dengan mengajarkan kecintaan kepada Al Qur'an diharapkan anak menjadi generasi penerus yang taat kepada Allah, berilmu, mengamalkan ilmunya, dan bermanfaat di jalan Allah.

Generasi Rabbani tidak hanya memiliki kapasitas ilmu agama yang shahih, melainkan juga menguasai ilmu yang mencakup segala sektor keilmuan duniawi. Dengan demikian, perilaku generasi Rabbani laik diteladani, dan ia juga mengajarkan kepada sesama kualitas keilmuan yang mumpuni itu, sehingga secara makro terbentuklah masyarakat Rabbani. Kebaikan itu tidak hanya untuk tataran diri sendiri, tetapi menular luas dan membangun masyarakat yang baik dalam ilmu agama dan di segala sektor kehidupan.

Ketiga, dalam skala yang luas, terwujudlah umat yang terbaik, seperti tertuang dalam Surah Ali Imran, Ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Menilik saat pewahyuan Al-Quran, terlihat gambaran masyarakat di bawah bimbingan Nabi Muhammad SAW, yakni umat Islam yang dikenal sebagai umat terbaik. Mereka memiliki ciri yang khas, yakni senantiasa memerintahkan kepada yang ma'ruf, mencegah dari kemungkaran dan memiliki keimanan yang kokoh dan kuat kepada Allah SWT.

Pertanyaannya, bagaimana caranya mendidik anak agar mencintai Al Qur'an?

1. Orang tua ikut terlibat langsung 

Orang tua adalah teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bagus sekali jika orang tua belajar bersama anak mencintai Al Qur'an. Mulai dari belajar mengaji dan menghapal Al Qur'an bersama. 

Surah An Nahl, Ayat 78, berbunyi:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

Wallāhu akhrajakum mim buṭụni ummahātikum lā ta'lamụna syai`aw wa ja'ala lakumus-sam'a wal-abṣāra wal-af`idata la'allakum tasykurụn.

Artinya: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."

Anak, secara biologis, dibekali indera pendengar yang berfungsi terlebih dulu. Di dalam kandungan, janin sudah bisa mendengar. Untuk itu, sangat dianjurkan selama kehamilan, para ibu hendaknya rutin mendengarkan tilawah Al Qur'an kepada sang janin. Kelak, anak akan mudah menghapal Al Qur'an. 

Tidak kalah pentingnya, seperti dipaparkan psikolog perkembangan anak, dalam kesempatan terpisah, bahwa anak lebih banyak belajar dari meniru dibandingkan mendengarkan ucapan dan nasihat. Karenanya, orang tua hendaknya memberi contoh terlebih dahulu kepada anak dalam menularkan kecintaan kepada Al Qur'an. 

2. Komunikasi yang intens dan mesra antara orang tua dengan anak.

Dengan menjalin komunikasi yang baik dengan anak, orang tua dapat menanamkan nilai kecintaan pada Al Qur'an sebagai bagian dari ibadah dan pedoman hidup umat Islam. Anda bisa rutin menceritakan kisah-kisah inspiratif para hafidz dan hafidzah yang tetap semangat berjuang menghapalkan Al Qur'an dengan segala keterbatasannya. Sedini mungkin, secara rutin orang tua dapat menyampaikan kisah-kisah yang ada dalam Al Qur'an.

3. Memilih guru/ pengajar yang tepat

Mengajarkan Al Qur'an kepada anak idealnya dilakukan langsung oleh orang tua. Tetapi karena satu dan lain terkendala, maka orang tua bisa berikhtiar lainnya, yaitu mencarikan guru/pengajar yang tepat. Yang pasti, tujuan mendidik anak mencintai Al Qur'an dapat tercapai. 

Selain itu, ikhtiar lain adalah menciptakan lingkungan yang kondusif di mana anak belajar mencintai Al Qur'an. Baik di rumah, di sekolah, pesantren atau TPQ. Ciptakan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan, guru yang amanah dan pandai menciptakan kecintaan dan kenyamanan pada anak dalam belajar Al Qur'an.

4. Bersabar terhadap perilaku anak

Mencintai Al Qur'an sebuah proses yang sangat panjang dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sabar jika anak belum bisa menghapal penggalan bacaan Al Qur'an. Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak menghapal Al Qur'an dengan memutarkan lantunan Al Qur'an murratal berulang kali. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X