Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Down 9 Kali Operasi, Laila Ingin Akhiri Hidup, Namun Batal karena Celoteh Putrinya, Dila (2,5)

Inspirasi
07 Mar 2022
Down 9 Kali Operasi, Laila Ingin Akhiri Hidup, Namun Batal karena Celoteh Putrinya, Dila (2,5)

hariansuara.com - Dunia, kata orang arif, tempat manusia diuji. Bukan dites kemampuannya menaklukkan ujian itu, melainkan mengukur kemauan manusia mengakui dirinya lemah di hadapan Sang Khalik yang Maha Segalanya. 

Beragam ujian manusia, bisa berupa keberlimpahan harta, kekuasaan, dan mentereng dunia. Tetapi ada yang diuji dengan sakit berat, seperti dialami Laila Abdul Jalil, SS, MA (47). Selama 13 tahun, pengelola data arkeologi di kantor arkeologi Kalimantan Selatan itu mesti menghadapi pisau operasi. Bukan operasi kecil, tetapi besar. 

“Tahun 2006 saya operasi pertama waktu umur 31 tahun. Dua anak kami, Diki dan Dila, masih kecil. Diki 6 tahun, kelas 1 SD. Dila baru 2,5 tahun. Rasanya pedih sekali harus kehilangan golden years bersama anak. Makanya sekarang susah dan juga tidak mau saya jauh dari anak,” ujar istri Alam (56) kepada hariansuara.com. 

9 Kali Dibedah di Meja Operasi 

Laila tak punya riwayat sakit serius. Paling banter cuma flu, pilek dan demam. Tetapi, suatu hari teman-teman di kantornya di …., Aceh, mengira dirinya hamil, sebab perutnya membesar. Laila tak merasa, sebab  tetap haid meski tidak lancar. Penasaran, periksalah ia ke bidan, yang kemudian menyarankannya ke dokter kandungan. 

“Malam Sabtu dini hari, saya terbangun ingin ke kamar mandi. Saat itulah saya lihat darah mengalir. Mirip keguguran. Tapi saya tak langsung bangunkan suami. Tunggu esok pagi ajak ke klinik. Di-USG, dan dokter bilang saya keguguran dan harus dikuret. Sakitnya luar biasa,” lanjut Laila, yang kemudian diizinkan pulang sore harinya. 

Sepuluh hari kemudian, Laila masih mual dan ingin muntah. Dites urine, ternyata positif. Baliklah ia ke ginekolog yang sama. Ini kasus biasa, terjadi lantaran hormon hamil masih ada di dalam tubuh. Dua pekan berikutnya, sepulang dari kantor, perutnya nyeri begitu hebat. Langsung dibawa ke dokter. 

Usus bantu, diagnosa dokter. Harus segera dioperasi. Sabtu siang Laila dioperasi. Syukurlah operasi berjalan lancar. “Saya merasa seperti ada sesuatu yang keluar dari perut saya. Saya pikir obat biusnya hilang. Namun, tim dokter berteriak panik, ‘Pendarahan dalam’. Saya langsung dibius total, sementara dokter mencari sumber perdarahan,” lanjut Laila.

Ternyata indung telurnya pecah. Di dalamnya, ada janin 2,5 bulan. Bila pendarahan berlanjut hingga keesokan harinya, rahim terpaksa diangkat. Deg! Perasaan Laila tak karuan. Tak terbayangkan jika itu terjadi. Ia merasa lega, sebab pendarahan stop. Namun, tiga minggu kemudian, ia mengalami kesulitan BAB (buang air besar), susah makan dan minum. BAB tepatnya seperti diare. Fesesnya sedikit. Khawatir disentri, sebab tsunami Aceh baru setahun lewat. Dokter umum memberinya obat dan antibiotik. 

Perut Laila makin besar. Ia ke ginekolog lain. Kembali, ia disarankan operasi. Malam hari sesudah operasi, perutnya sakit luar biasa sampai sesak napas. Intensitas sakitnya bertambah-tambah dan kesadarannya hilang.

“Saya dirujuk ke rumah sakit lain. Di situlah saya mati suri. Badan saya seperti dihimpit, lalu terdengar suara seprti lebah berdengung. Saya bertanya-tanya, kenapa keluarga tidak bacakan saya surah Yassin. Saya berjalan di atas jembatan kecil yang hanya muat satu tapak kaki. Bawahnya jurang, dalam dan gelap pekat,” ujar Laila. 

“Dua lelaki bersayap mendampingi saya berjalan. Wajahnya tak terlihat. Di tengah jembatan saya berhenti karena kelelahan. Saya disuruh terus berjalan. Sampai di ujung jembatan saya lihat taman yang sangat indah. Saya diizinkan tinggal di situ. Lalu, saya katakan tentang anak saya hingga 3 kali. Tiba-tiba badan saya serasa diangkat tinggi sekali, lalu dihempaskan. 

“Saya berteriak memanggil,”Kaaakkkkk.” Lalu saya tersadar dan melihat perawat di samping saya. Ia memanggil dokter yang merawat saya. Kemudian, dokter bedah digestif menanyakan kesediaan saya dioperasi lagi. ‘Lakukan yang terbaik untuk saya, Dok,’ jawab saya.” 

Akhirnya operasi kembali dilakukan. Usus Laila mengalami pembusukan, bocor, dan berlipat. Rongga perutnya penuh kotoran yang menyebabkan peritonitis atau infeksi rongga perut. Setelah dioperasi, ia harus memakai colostomy bag selama tiga bulan untuk mengistirahatkan usus. 

Namun, ujian belumlah usai. Seminggu pasca operasi, usus Laila jebol kembali dan harus dioperasi ulang. Hingga 5x dioperasi dan ususnya selalu jebol. Akhirnya rumah sakit merujuknya ke RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta untuk operasi lagi.

Celoteh Dila Selamatkan Laila dari Hasutan Bunuh Diri

Total 9 kali sudah Laila operasi. Ususnya dipotong 1,7 m karena membusuk. Kepada hariansuara.com, jujur dikatakannya, ia sempat down, ingin bunuh diri. 

“Tubuh tak berdaya, tabungan habis terkuras untuk biaya berobat. Pas suami sudah ke kantor, saya merancang cara untuk bunuh diri. Kebetulan ada pisau buah di kamar. Saya iris saja pergelangan tangan di kamar mandi, supaya keluarga saya tidak perlu repot membersihkan darah di kamar,” kata Laila. 

Sesaat saja pikiran itu berkelebat, Dila, anak kedua Laila (2,5) berkata, “Kalau sudah sembuh nanti, bikinin lagi bolu cokelat ya.” Celoteh itu, bagi Laila, seperti tamparan keras di pipinya. Laila tersadar, lalu istighfar dan bertekad untuk sembuh. 

“Anak-anak masih membutuhkan saya. Kalau saya mati, suami bisa kawin lagi. Tapi nasib anak-anak saya bagaimana? Iya kalau beruntung dapat ibu tiri yg baik,” lanjut Laila, yang kemudian mengisi pikiran dan hatinya dengan hal-hal positif. Di antaranya, kuliah lagi mengambil program magister (Strata 2) di Perguruan Tinggi Islam UIN Ar-Raniry pada 2009. Lulus dengan nilai sangat memuaskan, meski sempat cuti 1 Semester, karena kondisinya drop pada Semester 3. 

Dari Aceh, Laila terus mendampingi suami dan merawat putra-putrinya. Pindah ke Ternate, lalu ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi kesehatan saya belum pulih benar, dan masih memakai perban di perut. Pada 2019 akhir fistula (saluran) di perutnya menutup dengan sempurna. Sejak 2020 tak perlu lagi perutnya diperban. 

“Jangan Patah Semangat, Saudaraku Para Pejuang Pencari Kesembuhan”

Hampir dua tahun Laila tak perlu lagi memakai perban di perutnya. Kesembuhan bisa dikecapnya sekarang. Ia juga menikmati pekerjaannya kini di bidang arkeologi. 

“Para saudaraku pejuang pencari kesembuhan, jangan patah semangat ya. Setiap sakit pasti ada penawarnya/obat, kecuali kematian. Terus berikhtiar untuk sembuh. Pikirkan dan lakukan hal positif, serta makin dekatkan diri kepada Sang Khalik. Insya Allah kondisi badan akan lebih cepat pulih,” pesan Laila, yang ingin menuangkan ke buku pengalaman dirinya untuk sembuh. 

Supporting System, tambah Laila, sangat mendukung kesembuhan. Dicontohkannya, keluarganya selalu mendukungnya untuk sembuh. Suami dan anak-anak, kakak dan ibundanya, Hindun AK, selalu ada untuknya. (*) Sayuti/MTS      Foto: Dok Pri

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X