
hariansuara.com - Dalam ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan pentingnya hidup rukun dan damai dengan tetangga. Kendati ada kalanya saat berinteraksi muncul beda pendapat yang bisa jadi permasalahan, bahkan perselisihan. Ini harus dihindari, terlebih jika dibiarkan berlarut jadi saling benci dan hasut.
Bagaimanapun, diingatkan UAH, tetangga adalah orang terdekat yang mungkin bisa membantu saat kita kesulitan. Jadi, sebuah keharusan untuk berbuat baik kepada semua tetangga. Tak perlu pilih-pilih menurut status sosial, ras, suku maupun agama. Kualitas hubungan antarwarga ini akan berpengatuh langsung terhadap kenyamanan kita tinggal.
Kuncinya: Kepedulian dan Empati
Namun, realitanya. kita jumpai dua wajah lingkungan hunian yang kontras. Di satu sisi, lingkungan yang hangat, kompak dan penuh kekeluargaan. Warganya saling menyapa, membantu tanpa pamrih, dan menghadapi suka duka bersama.
Namun, di sisi lain ada lingkungan yang terasa dingin, bukan karena cuaca, melainkan karena hati warganya yang terkotak-kotak, penuh prasangka, dan saling menjauhi. Menurut sosiolog lingkungan, iklim sosial seperti ini tanda mulai lunturnya kepedulian dan empati antartetangga.
Relasi sesama warga mulai rapuh dan mudah tersulut konflik. Yang menyedihkan, penyebabnya hal-hal kecil yang dibiarkan membesar jadi tembok pemisah. Dimulai dari tidak menyapa, lalu memilih dalam bergaul (blok-blokan ekslusif), sampai kemudian menggosipkan kekurangan orang lain di belakang.
Ditegaskan sosiolog lingkungan lagi, di sini penting saling membiasakan diri untuk peduli dan berempati. Belajar hidup berdampingan di tengah keberagaman karakter, latar belakang, bahkan perbedaan ekonomi.
Bukan Gifted
Lingkungan tempat tinggal yang sehat bukanlah gifted atau hadiah, melainkan sesuatu yang harus diikhtiarkan bersama-sama. Tak bisa diupayakan sendiri atau satu Rukun Tetangga (RT), melainkan harus serentak bersama. Beberapa tip dari sosiolog lingkungan yang layak dicoba:
1. Biasakan berkomunikasi terbuka dan positif. Mulai dengan menyapa, menanyakan kabar, dan tersenyum. Sapaan yang tulus mampu membuka pintu persahabatan dan juga meruntuhkan prasangka.
2. Lakukan kegiatan bersama yang inklusif. Kerja bakti, pengajian, atau masak bersama di hari raya keagamaan bisa jadi ruang berinteraksi, sekaligus membangun kepercayaan.
3. Tumbuhkan sikap saling membantu, bukan menghakimi. Bantu tetangga yang sakit, kesulitan ekonomi, atau tertimpa musibah. Tak perlu menunggu berharta, melainkan bisa dengan memberi dukungan moral, berkunjung, atau menyemangati.
4. Berani katakan "TIDAK" pada gosip dan labelisasi sosial. Bila mendengar cerita negatif tentang tetangga, kunci telinga dan mulut. Gosip bisa merusak kepercayaan dan menumbuhkan rasa saling curiga.
5. Bangun lingkungan sosial yang sehat mulai dari diri sendiri. Awali dengan menyapa dan memberi atensi yang tulus. Tebarkan salam, menyapa hangat, dan beri semangat untuk peduli dan berempati.
Mari kita rawat hubungan baik dengan tetangga. Sejatinya, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bertetangga. Tetapi kita bisa memilih menjadi tetangga yang baik. Tetangga adalah saudara yang Tuhan titipkan untuk kita saling menjaga. (*) MTS Foto: Freepik
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU