Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Belajar dari Endri, Seorang Penyintas Depresi & Bunuh Diri

Inspirasi
12 Feb 2018
Belajar dari Endri, Seorang Penyintas Depresi & Bunuh Diri

hariansuara.com, Jakarta - Seseorang dikatakan berjiwa sehat, menurut World Health Organization, jika kepribadiannya berkembang selaras dan seimbang, serta mencerminkan kedewasaan. Psikolog lainnya mendeskripsikannya bila kondisi fisik, emosional dan intelegensianya berkembang baik serta mampu berinteraksi selaras dengan lingkungan. 

Namun, bagi Endri, penyintas depresi dan bunuh diri, “Sehat jiwa itu sederhana. Yakni, tatkala seseorang dapat merasakan semua emosi—seperti marah, bahagia, sedih, takut, dan lain-lain—dan sesuai ketika sedang merespons suatu peristiwa. Tidak berlebihan dan tanpa dipaksakan.”

Demikian hasil perenungan alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran yang berhasil membebaskan diri dari keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Terbilang tiga kali ia sudah berusaha mengakhiri hidupnya, karena merasa dirundung kegagalan dalam hidupnya, tidak punya masa depan, dan hanya membuat orang-orang di lingkungan terdekatnya menderita. 

“Tiga kali saya coba bunuh diri, karena ingin lepas dari penderitaan. Saya sama sekali tak menyadari kalau bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar. Yang terlintas di benak saya, kepergian saya untuk selamanya adalah yang terbaik untuk semua orang, termasuk buat saya sendiri,” ujar Endri kepada hariansuara.com. 

Sejatinya, pehobi memasak makanan sunda itu tak perlu berperasaan demikian. Ia toh punya pencapaian yang membanggakan. Lulus dari Fakultas Kedokteran, ia beroleh beasiswa dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan—Red) untuk menempuh pendidikan ke tingkat magister di Lund University, Swedia. Tidak semua orang mendapat kesempatan itu. Selain juga keluarga dan teman-teman menyayanginya. 

“Tiga kali saya coba mengakhiri hidup, tapi selalu saja ada yang menggagalkan. Pertama dan kedua, orang tua mendobrak kamar saya. Kali ketiga waktu kuliah S2, teman sekelas saya asal Swedia berhasil menggagalkan upaya bunuh diri saya. Dia curiga melihat gerak-gerik saya akan bunuh diri, lalu segera menelepon polisi setempat.”

MULAI MEMBUKA DIRI 

Sekembali di Tanah Air, Endri yang kini bekerja di LSM Intenasional itu, pun mulai berusaha membuka diri, keluar dari cangkang keterisolasiannya. Bukan perkara yang mudah. Pertama-tama, ia coba mengutarkaan pengalamannya melalui blog pribadinya, www.liquidkermit.net.

Reaksi teman-teman media sosial beragam. Ada yang menghakimi, tapi banyak yang bersimpati dan menunjukkan sikap yang hangat. Ada yang mengajaknya sekadar bertemu, makan bakso bersama, menonton bioskop, menemani jalan-jalan keliling Bandung, kota tinggalnya bersama orang tua. Bahkan ada yang menawarinya pekerjaan. 

“Teman-teman ini yang kemudian menjadikan saya aktif lagi secara sosial,” kata Endri, yang kini bekerja di LSM internasional ENVISION, yang bergerak dalam program pemberantasan kaki gajah. 

“Sebelumnya selama berbulan-bulan saya hanya mengurung diri dalam kamar. Berat badan saya turun belasan kilogram. Saya tak berdaya. Seharian hanya terbaring di atas kasur. Selama itu dengan sabar, orang tua menyuapi saya, mengelap badan saya, dan membawa saya ke psikiater.”

TUNDA 1 HARI RENCANA BUNUH DIRI

Perlahan, berkat dukungan orang-orang terdekat, terutama keluarga dan teman-teman, serta motivasi dari dalam diri sendiri, Endri akhirnya dapat keluar dari depresi dan keinginan bunuh diri. 

“Ketika itu saya hanya memilih, sudah lah, hidup saja sehari demi sehari, meski tanpa tahu untuk apa. Kalau memang mau bunuh diri, nggak ada salahnya ditunda satu hari. Begitu terus hari bergulir, saya bicara pada diri sendiri, sampai beberapa minggu kemudian, pikiran untuk bunuh diri itu hilang.” 

Memperbaharui self talk ‘Tunda rencana bunuh diri satu hari’ begitu bangun pagi, terus diulangi Endri keesokan harinya. Tunda bunuh diri satu hari, tunda lagi satu hari, dan keinginan bunuh diri itu hilang seiring dengan perubahan hidup. 

“Yang terpenting bagi penderita depresi adalah untuk tahu, bahwa depresi berbohong,” kata Endri, “Depresi itu berbohong kepada diri kita sendiri, bahwa kita produk cacat dan gagal. Berbohong bahwa kita tidak punya masa depan. Berbohong kalau kita tidak punya teman. Berbohong kita akan lebih baik punya banyak waktu bila sendiri, lalu melepas pekerjaan dan pertemanan untuk menata hidup kembali. Padahal mengurung diri itu bisa menjadi siklus beracun. Tatkala sendiri itulah, semua pikiran buruk berseliweran.”

Di samping itu penting pula bersikap jujur kepada diri sendiri, bahwasanya ‘Saya perlu bantuan’. Memang, kata Endri, dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk berhenti berpura-pura bahagia. Untuk itu, mulailah mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit jujur kepada diri sendiri. Tanggalkan topeng bahagia.

"Percayalah, akan ada orang yang menawarkan bantuan jika kita mau membuka diri sejujur-jujurnya," tambah Endri yang cukup aktif menulis dan mengampanyekan tentang kesehatan mental.

SOS UNTUK PERTOLONGAN

Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Selain psikiater dan psikolog, di Indonesia saat ini ada beberapa komunitas dan lembaga yang peduli tentang kesehatan mental. Silakan klik:

* KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia): www.facebook.com/groups/skizofrenia/

* BCI (Bipolar Care Indonesia): www.facebook.com/groups/bipolarcare.indonesia/

* Get-happy, komunitas tempat berdiskusi bagi yang terdampak oleh gangguan mental: www.get-happy.org

* Into the light Indonesia, komunitas yang berfokus pada pencegahan bunuh diri. www.facebook.com/IntoTheLightID

* Motherhope Indonesia, komunitas penderita depresi pasca bersalin. www.facebook.com/groups/pedulikesjiwaibuperinatalindo/

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X