.jpeg)
hariansuara.com, Aleppo - Um al-Noor, supir taksi wanita pertama di Aleppo, Suriah ini berani mandiri mencari nafkah saat perang berkecamuk.
"Ketika orang-orang pertama kali melihat saya, mereka tercengang tapi tidak ada yang menentang saya karena semua orang sibuk berjuang untuk mendapatkan roti," kata al-Noor, wanita Suriah berusia 50-an tahun.
Mengenakan jilbab dan jaket panjang yang menutupi tubuhnya, Um al-Noor, yang berarti "ibu terang" dalam bahasa Arab, kehilangan segalanya saat perang melanda di Aleppo dan mendapati dirinya sebatang kara.
Setelah bercerai sebelum perang pecah, salah satu putranya bertugas di militer di ibukota Damaskus. Anak laki-lakinya yang lain tinggal di sebuah lingkungan yang terkepung di Aleppo, membuatnya tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk berpaling saat menghadapi kesulitan.
Dia bekerja sebagai seorang DJ di pesta-pesta khusus wanita menjelang perang, namun itu semua sirna oleh perang dan penderitaan orang-orang Suriah di Aleppo yang tak terbayangkan.
Hidupnya berubah secara dramatis. Dia masuk ke garis depan untuk mengantarkan penumpangnya yang ketakutan ke dalam taksi putihnya. Melaju tidak takut pada penembak jitu atau mortir, yang menghujani bagian yang dikendalikan pemerintah Aleppo di waktu itu.
"Saya memasuki garis depan, saya tidak pernah mengatakan tidak, saya dihujani peluru mortir dan penembak jitu, yang menabrak mobil saya dua kali," katanya.
Dia bahkan pernah ditangkap oleh pemberontak satu kali saat dia mengangkut penumpang ke pemberontak yang ditahan di kota tersebut. Dia merasa cemas dengan mobilnya lebih dari dirinya sendiri.
"Saya ditahan oleh pemberontak selama sembilan jam saat mereka mulai menuduh saya bekerja untuk pemerintah sebelum mereka membiarkan saya pergi. Saya tidak merasa takut pada diri sendiri, saya takut akan mobil saya karena hanya itu yang saya miliki,"katanya.
Al-Noor mengatakan bangga pada dirinya sendiri bahwa dia tidak mengemis untuk mencari nafkah atau melakukan sesuatu yang memalukan.
Dia juga mendorong wanita untuk berdiri dengan bangga dan mencari nafkah sendiri. Malu rasanya terutama pada masa perang, saat pria berada di garis depan atau terbunuh dalam pertempuran.
"Tidak memalukan bagi wanita untuk bekerja ... Saya lebih memilih menjadi supir taksi," katanya. Wanita dengan kacamata tebal ini juga mengatasi kesepiannya dengan memelihara kucing di rumah di Hamadaniyeh di Aleppo.
Rumahnya hampir kosong tanpa perabot hanya ada beberapa kursi plastik dan tempat tidur, namun dia masih kukuh oleh keinginannya untuk bertahan hidup meski sendiri.
"Kucing saya seperti keluarga sekarang, saya berbagi dengan makanan yang sama, mereka menerima saya di pintu depan saat kembali kerja ... saya tidak sendiri," katanya.
Al-Noor adalah satu dari ribuan wanita yang mengalami kondisi perang dan kehidupan yang sulit sendirian, yang akhirnya menemukan diri mereka melakoni pekerjaan seorang pria.
Sekarang setelah perang berakhir di kota Aleppo, al-Noor tetap menjadi sopir taksi dan menjadi DJ di sore hari.Dia menjadi terkenal sebagai pengemudi wanita pertama dan satu-satunya di Aleppo yang berani masuk ke daerah bahaya.
"Keluarga dan teman saya bangga dengan saya dan masyarakat melihat wanita telah berubah setelah perang," (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU