
hariansuara.com, Jakarta - Amerika Serikat, menurut Pusat Sains dan Teknik Sistem (CSSE) di Universitas Johns Hopkins, menjadi negara terbanyak kasus Covid-19. Tercatat pada Minggu, (29/3/2020), di AS terdapat 124,377 kasus Covid-19 dengan angka kematian mencapai 2,190 orang dan New York sebagai salah satu wilayah yang paling parah terdampak dengan puluhan ribu kasus Covid-19.
Sebagai orang Indonesia yang telah lama tinggal di New York, Joutje Kaunang, merasakan betul perubahan yang terjadi semenjak Covid-19 "menyerang" New York.
"New York jadi sepi," tuturnya.
Joutje menceritakan sekolah dan kantor sudah diliburkan. Pun dengan restoran banyak yang tutup. Bagi yang lapar warga bisa memesan makanan via online. Belum ada waktu persis sekolah-sekolah yang diliburkan dapat aktif kembali
Dalam kesehariannya saat keluar rumah, Joutje tak lupa mengenakan masker sebagai alat pelindung diri. Namun sejauh mata memandang, banyak warga New York yang tidak menggunaan masker.
"Tergantung dari orangnya saya rasa, mau pakai atau tidak. Rabu saya ke Manhattan, di kereta, bus, dan di jalan-jalan ada yang pakai ada juga yang tidak," katanya kepada hariansuara.com belum lama ini.
Sama seperti kota-kota lainnya di seluruh dunia, social distancing dan lockdown juga diberlakukan disana. Berkumpul-kumpul, pesta, hajatan juga dilarang, begitu pula saat melakukan ibadah yang dianjurkan dilakukan di rumah saja.
Soal Lockdown ini, warga New York sedikit bernafas lega karena akan dapat bantuan tunai dari pemerintahnya. Joutje mengatakan bantuan ini diberikan kepada warga yang sudah legal yang memiliki SS Social Security dan juga yang sudah memiliki Permanent Residence/ Green Card - US Citizens.
Ya, bantuan cair setelah Presiden Donald Trump dan Kongres AS berdebat dan akhirnya kongres AS setuju dan Trump teken kontrak paket stimulus dengan jumlah yang akan diberikan untuk orang dewasa sebesar 1.200 dollar AS, anak-anak 500 dollar AS. Kalau suami -istri 2.400 dollar AS.
Akan halnya imbas dari lockdown, dia bertutur operasional kereta di New York dikurangi. Begitu juga dengan bus dan yang bukan supermarket, toko-toko klontong tutup.
"Tidak seperti biasanya kota ini karena instruksi dari pemerintah yang tidak boleh berpergian, jika tidak darurat tetap dianjurkan dirumah saja," katanya yang menambahkan warga New York juga sempet panic buying buru makanan ke swalayan karena panik.
Supermarket sering habis.Namun Supermarket di Elmhurst Queens dekat tempat tinggalnya untung masih melayani warga, masuk lewat samping agar tidak menyolok karena pintu utamanya ditutup. Sedangkan jasa laundry dibatasi hanya sampai pukul 6:30 sore. Dan bergantian dengan jumlah hanya 10 pelanggan.
"Tapi ada juga laundry yang tidak boleh pelanggannya masuk, kalau ingin mencuci kita disuruh meninggalkan pakaian terus ditimbang, nanti orang yang bekerja di laundry yang mengambilnya," tuturnya.
Joutje berkata New York ini sudah terlalu padat. Manusia di Amerika Serikat khususnya yang tinggal di lima wilayah NYC, dari Manhattan, Brooklyn, Bronx , Staten Island serta Queens tidak dapat dihitung manusianya. Belum yang tinggal di daerah lain sekitar New York seperti Albany Ibukotanya New York dan kota-kota lainnya
New York sebagai pusat pandemi Virus Corona di AS membuat Rumah Sakit di daerah tempat tinggalnya, Elmhurst Hospital, tidak bisa menampung lagi warga yang terindikasi virus. Hari Jumat kemarin sudah 13 orang yang meninggal.
"Elmhurst Hospital yang berlokasi di Broadway Ave Elmhurst, Queens New York, kelabakan menampung warga yang terserang Coronavirus," tuturnya.
Joutje pun hanya berharap situasi dan kondisi di kota ini dapat berangsur pulih dan aktivitas kembali seperti sedia kala.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU