
hariansuara.com - Suara dan senyum ramah bersahabat di seberang sana menyambut sapaan hariansuara.com saat video call tersambung. Secara geografis puluhan ribu kilometer memang terentang antara Indonesia dan Afrika Selatan, tetapi bincang hangat siang itu membuatnya serasa tak berjarak.
"Ya, saya Mariah binti Nusidik, atau di sini kerap disapa Mariah Danka," ujar pemilik Bunga Spa, Salon dan Wellness Center yang representatif di Tudor Place Nomor 9, Musgrave, Durban, Afrika Selatan.
Perempuan berdarah asli Indonesia, tepatnya orang tua asal Cirebon dan Brebes, itu mengaku lebih dari 36 tahun hidupnya dilalui di negeri orang. Awal mula, pada 1989 di saat umur 17 tahun, ia sudah mengikuti lowongan kerja di Malaysia.

"Saya lulus SMP saja, lalu merantau bekerja. Maklum, keluarga tidak mampu untuk membiayai sekolah lebih lanjut. Bahkan untuk membiayai keluarga dan sekolah kakak-kakak, Bapak harus kehilangan sawah dan tanah. Jadi, itykag mula saya merantau, hidup di luar negeri sampai sekarang," tutur Mariah, anak ke-6 dari 11 bersaudara.
Empat tahun berselang, di Negeri Jiran itu ia berjumpa dengan pria Malaysia yang kemudian menikahinya. Namun, jodoh mereka tak lama. Putra pertama, Ali, kini 31 tahun, baru menginjak usia satu tahun, keduanya memutuskan untuk berpisah.

Mariah pun menjadi single parent. Ia harus mengasuh anak, sekaligus mencari nafkah untuk berdua. Enam bulan kemudian, Mariah bertemu Farid S. Danka asal Afrika Selatan, yang kemudian mempersuntingnya. Dari perkawinan mereka selama 23 tahun lahir dua buah hati mereka, Nadia (27) dan adiknya Aadil (24).
"Alhamdulillah, ketiga anak inilah jadi sumber kebahagiaan keluarga. Nadia lahir di Malaysia pada 1998. Kemudian suami menutup bisnisnya di Megeri Jiran itu untuk kemudian kembali ke Afrika Selatan, di mana putra bungsu, Aadil namanya, lahir pada 2001," lanjut pehobi musik, makan, koleksi parfum dan traveling itu.
Mulai dari Urut Teman dan Tetangga
Kisah Mariah menjadi pengusaha salon dan wellness center Bunga Spa di Afrika Selatan sangat unik. Mariah dan keluarga tinggal di Durban waktu itu. Tanpa disadari, bakat Mariah berbisnis ternyata begitu tajam. Di Negeri Mandela itu tumbuh subur sense of business-nya.
"Mula-mula saya coba pijat teman dan tetangga yang merasa ototnya kaku dan lelah. Di Malaysia saya dam suami sebelumnya sering diurut oleh seorang ibu asal Madura. Dari dialah saya mengenal cara memijat," imbuhnya.

Ternyata, cerita pengalaman diurut Mariah dari satu teman, dan satu tetangga akhirnya bergulir dan menyebar. Makin bertambah teman dan tetangga yang minta dipijat. Sang suami mendukung, lalu kamar depan di rumahnya difungsikan sebagai ruangan pijat.
Singkat cerita, jalan bagi Mariah membangun salon dan wellness spa kian terbuka. "Ceritanya, pada 2007 saya bertemu Pak Michael dari Kedutaan Besar Republik Indonesia, KBRI di Pretoria. Ketika itu ada pertemuan para pejabat di sana. Saya dikenalkan dengan Mbak Lily, warga negara Indonesia asal Lampung. Ia pernah bekerja di spa dan kebetulan sedang mencari kerja. Pak Mike, sapaannya, berkenan membantu jika dibutuhkan," ujar Mariah yang kemudian menjalin kerja sama dengan sang teman.
Di Tudor Place Nomor 9, Musgrave, Durban itu pun berdiri Bunga Spa, pusat perawatan yang memberi layanan kecantikan dan perawatan tubuh. "Alhamdulillah, respon dan sokongan dari masyarakat di sini datang terus-menerus. Selama 15 tahun berjalan, semua pelayanan kecantikan diminati, dari massage sampai mani-pedi," lanjutnya, penuh rasa syukur.

Dalam mengelola salon dan wellness spa, Mariah juga memperkaya ilmu kecantikan dengan belajar di Beauty Academy. "Di awal itu saya bekerja ekstra keras. Membekali diri dengan ilmu perawatan kecantikan tentang waxing, manicure dan pedicure, terkhusus facial treatment. Jadi, tatkala tim berhalangan, saya bisa turun langsung melayani pelanggan. Alhamdulillah, mereka puas dan sampai kini ada yang minta facial saya yang kerjakan."

Tatap ke Depan, Optimis dan Tetap Positif
Masyarakat di Afrika Selatan cukup beragam budayanya. Semua bergaul dengan rukun, Mariah bercerita. Mayoritas 80% umat Islam, kemudian 10 persen berkulit hitam dan sekitar 5 persen berkulit putih. Semua saling menghormati satu sama lain.
Waktu berjalan, Mariah pun bersolo karir dalam mengelola Bunga Spa. Syukurlah ia mendapat tim yang solid untuk maju bersama. Di tengah bincang siang itu, hariansuara.com diajak touring ke Bunga Spa dari ruang ke ruang, lantai demi lantai yang sedang direnovasi. Tampak interiornya lebih ceria, modern dan tentunya pelanggan bertambah betah menjalani perawatan kecantikan di sana.
Bunga Spa dikelola dengan kesungguhan, sepenuh hati dan doa, pun berkembang dengan pesat. Ini tak luput dari dukungan moral pasangan hidupnya, dan anak-anak di dalam keluarga. "Akhamdulillah Bunga Spa terus diminati masyarakat, dan termasuk sukses untuk kategori bisnis yang dikelola oleh pendatang," imbuh Mariah.
Namun, sukses itu bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan dibangun dengan pengorbanan, baik waktu, dan tuntutan akan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Menjalani usaha bertahun-tahun banyak sekali cobaan. Dari jealousy sampai berbagai ujian yang secara nyata rupanya justru menempa jiwa raga jadi tegar dan survive."
Andai suatu saat mengalami kegagalan, kehilangan, atau keadaan yang menyedihkan, jangan biarkan berlarut. Segera bangkit, tatap ke depan, optimis, dan tetap positif. Fokus memperbaiki diri dan berkarya lebih keras lagi untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.
Ditambahkannya, "Dari pelajaran sekolah, saya memang tidak tinggi. Tetapi pengalaman hidup mengajarkan saya ilmu yang sangat banyak. Di usia 17 tahun sudah merantau ke luar negeri, lalu sampai kini lebih dari 36 tahun lamanya. Semua butuh pengorbanan, juga air mata. Misalnya, bagi saya, yang paling pedih ketika harus kehilangan orang tua, tapi saya tidak bisa pulang kampung, karena harus menunggu urusan surat-surat untuk permanent residence. Sedih sekali."
Perempuan Mesti Independen
Kini Mariah kelahiran 15 Desember 1973 itu telah berbahagia dengan ketiga buah hatinya. Mereka telah dewasa dan mandiri. Putra sulungnya, Ali, akan menikah Januari 2026 dengan mojang Priangan pilihan hatinya, Sabrina. Ali sendiri fokus bekerja menjadi manajer di Bunga Spa, sekaligus menangani desain grafis.
Sedangkan Nadia, dokter ahli gizi, belum mendapat pekerjaan yang pas, kini bergabung sebagai pramugari di Maskapai internasional Emirates Emirates.
Sedangkan putra bungsunya, Aadil, sudah menikah, bekerja di bidang fooding. "Istrinya dokter di Cape Town, insyaallah dapat kerja di Durban tahun depan, jadi bisa pindah ke sini," kata Mariah, gembira sebab semua anaknya bisa berkumpul lagi.
Jelang penghujung obrolan, Mariah kembali berpesan kepada kaum wanita tentang pentingnya untuk tetap independen. Apa pun peran yang dijalani, ataukah bersuamikan orang yang kaya raya, tetap wanita harus independen. Ini pelajaran yang dipetiknya dari pengalaman hidup.
"Suami menarik semua harta yang dicari bertahun-tahun. Katanya, kalau saya pilih bercerai, maka saya tidak dapat apa-apa. Biarlah, saya pilih tidak dapat apa-apa, soalnya batin saya tidak happy lagi," tandas Mariah yang kemudian memfokuskan energi dan passion-nya mengelola Bunga Spa yang terus bertumbuh.
Dari independen itu, perempuan tidak harus terpuruk saat gagal. Ia bisa bangkit lagi membangun hidupnya. Selain itu, penting sekali fokus akan kesehatan. "Jaga kesehatan, makanannya, dan jauhkan barang-barang yang tidak bagus seperti rokok, minuman keras dan juga begadang. Sebaliknya banyak minum air putih dan berolahraga," saran sehat dari Mariah.
"Tak kalah pentingnya adalah merawat kecantikan siang dan malam menggunakan produk yang sesuai dengan jenis kulit, serta hindari sun damage dengan mengenakan sun screen."
Mariah terus aktif bergerak, dan membangun kebaikan dalam hidupnya. Termasuk meningkatkan kualitas pelayanan di Bunga Spa dengan menambah peralatan kecantikan canggih untuk head spa treatment. Ia mencari alat tersebut sampai ke negeri China tatkala mengunjungi keluarga di sana.
Ke depan, dengan izin Tuhan, ia ingin membuka spa dan wellness lagi di Durban. Termasuk menggunakan produk perawatan rambut dari Indonesia seperti untuk creambath, body scrub, treatment untuk kulit dan tubuh lainnya, sampai mempekerjakan tenaga terampil terapis dari Indonesia. (*) MTS Foto: Dok Pri
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU