Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Ammaar Asal Afrika Selatan Kembangkan Pencak Silat di Negara Nelson Mandela

Internasional
07 Sep 2022
Ammaar Asal Afrika Selatan Kembangkan Pencak Silat di Negara Nelson Mandela

hariansuara.com - Minggu pagi, sekira pukul 09.30 - 11.30 di pelataran Masjid Bosmont, Kota Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel) tampak sejumlah remaja putra berkostum tradisional hitam sedang berlatih pencak silat. Serius, mereka mengikuti gerakan yang diperagakan gurunya, M Ammaar De La Rey.

Pria berusia 27 tahun kerap disapa Ammaar itu seorang asli Afsel. Tapi ia begitu keren melakukan jurus-jurus pencak silat yang indah, dinamis dan sarat makna. Fasih pula berbahasa Indonesia. Sementara diketahui, pencak silat olahraga bela diri asli Cimande, Jawa Barat, Indonesia. 

Ammar dan pecinta pencak silat serta Anton Prabowo

Seperti suatu ketika dikatakan Sariat Arifia, mantan Ketua Asosiasi Pencak Silat Afrika Selatan dan  penanggung jawab Perguruan Pencak Silat Salamun Alaikum, bahwa pencak silat adalah lima isi latihan ketangguhan. Salah satunya bersumber pada tradisi atau budaya Cimande yang berarti lima tempaan meliputi fisik, pikir, rasa, hati, dan rohani.

Bagaimana kisahnya hingga Pencak Silat kemudian merantau dan sampai ke 'Negara' Nelson Mandela? Youtuber Anton Prabowo bincang santai dengan Ammaar, berikut kisahnya. 

Pencak Silat Bagus Dikembangkan di Afsel

Ammaar mula belajar silat di usia 15 tahun. Ia salah satu murid pertama pelatih Kak Jojo, sapaan Prihardjono S. Sastromartono, yang intens mengenalkan bela diri ini di Afsel pada 2009. 

"Saya murid Persaudaraan Pencak Silat Salamun Alaikum (PSSA) di Indonesia. Hingga kini saya merasakan brotherhood, rasa persaudaraan, di antara kami terus hidup meski masing-masing tersebar di Afsel, Jakarta, Lombok dan Situbondo. Bosmont jadi pusat pelatihan, karena di sini banyak orang Cape Malay. Melalui pencak silat, mereka seakan kembali mengenal akar budayanya," imbuh Ammaar sungguh-sungguh.

Bertahun hingga kini, Ammaar terus berlatih dan tekun menularkan kebisaan pencak silat kepada generasi lebih muda. Latihan seminggu dua kali, Rabu malam usai shalat Maghrib dan Minggu pagi, pukul 09.30-11.30. Terdaftar ada 50 murid. Tapi selama Covid-19 sempat tinggal 25 orang saja yang aktif berlatih. Para pelatih juga kembali ke Indonesia. 

Di Afsel kejuaraan pencak silat pertama digelar pada September 2010. Kemudian, perwakilan Afsel mengikuti kejuaraan dunia di Indonesia. Ammaar mengikutinya, lalu kembali bertanding di Bali pada 2011.

Saat ini aktivitas selain berlatih dan menggelar pertandingan pencak silat antarsekolah, Ammaar dan kawan-kawan juga suka mengisi acara bazaar dengan mengenalkan Senam Hijaiyah Indonesia (IHI). Senam warisan tradisi Cimande, peninggalan budaya Kerajaan Pajajaran ini bagus sekali untuk memperbaiki pernapasan. 

Dari mana Ammaar bisa begitu fasih berbahasa Indonesia? "Saya dulu kuliah di Universitas Al Azhar di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Dan, aktif perguran Seni Bela Diri Al Azhar Jakarta. Bergaul, berkomunikasi sehingga bisa berbahasa Indonesia," tandas Ammaar yang menilai, pencak silat bagus dikembangkan di Afsel. "Banyak masyarakat di sini berasal dari Indonesia. Dari pencak silat ini, mereka bisa mempelajari budaya dan tradisi leluhur mereka." 

Surprised mendengar isi hati Ammaar. "Indonesia is a second home for me. Rambut dan wajah saya Nelson Mandela ya. Tetapi di hati saya ini Soekarno," kata Ammaar, menggambarkan kebesaran cintanya pada Indonesia. (*) Sayuti/MTS            Foto: Tangkapan layar youtube Anton Prabowo

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X