
Lampung - Baru beberapa bulan di tahun 2014 Sugeng Hariyono pindah ke Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Sebagai orang baru di wilayahnya, Sugeng kerap dihingapi rasa bosan. Dan teman yang cocok untuk menemani, pikir dia mungkin sebuah buku. Ya, buku namun pertanyaannya, dimana dia dapat menemukan buku di wilayah tempat tinggalnya.
Sugeng kemudian bertanya-tanya kepada masyarakat perihal tempat dia bisa menemukan buku atau perpustakaan.Tetapi malang, jawaban yang dia terima tidak sesuai harapan lantaran banyak yang tidak tahu.
Dari jawaban itu akhirnya terbesit dalam dirinya untuk menyediakan bacaan secara gratis kepada masyarakat yang tinggal di dekat rumahnya. Namun pertanyaannya lagi dengan cara apa? Sugeng lalu putar otak. Dalam perenungan dia mendapat jawaban, yaitu motor.
Ndilalah, Sugeng pernah pergi ke tukang rongsokan dan menemukan sebuah motor nganggur. Kondisi dinilai Sugeng cukup layak, lantas dia membelinya. Setelah diperbaki kekurangan motor itu, motor pun layak jalan.
Sugeng lalu menemukan ide yang rencananya untuk membawa buku-buku, caranya dengan membawa buku tersebut dalam tas yang ditaruh ke kedua sisi motornya. Buku pun sudah ditangan, dia memperolehnya dari tempat rongsokan. Dari sana terkumpul 60 buku dan dari 60 buku itulah Sugeng mencoba keliling desa di sekitar tempat tinggal.
“Motor pustaka ini tujuannya memberikan bacaan kepada masyrakat sekaligus untuk menumbuhkan minat baca dan meminjamkan bukunya juga gratis” tutur Sugeng yang memiliki bengkel tambal ban di Lampung beberapa waktu yang lalu.
Awalnya, pikiran masyarakat saat melihat motor pustaka masih diselimuti tanda tanya. Pikir mereka Sugeng membawa tas di motor, jualan sesuatu layaknya sales. Namun, Sugeng menjelaskan, isi motor ini bukanlah barang jualan melainkan buku. Dan akhirnya mereka tahu setelah bertanya-tanya. Respon pun terbentuk, dari satu dua anak lalu mengajak ibunya utuk membaca buku di motor pustaka. Niat Sugeng menumbuhkan niat baca ada perkembangan.
Setelah dua bulan berjalan, pertanyaan masyarakat sudah beda lagi. “Banyak yang bertanya apakah ada buku-buku yang baru” terang Sugeng.
Namun sayang, buku yang bervariasi belum bisa disediakan Sugeng. Tak patang arah, Sugeng lagi-lagi putar otak. Dia gerilya dari satu rumah ke rumah lainnya. Alhasil, 42 buku berhasil di kumpulkan. Setelah itu Sugeng keliling lagi dengan buku-buku koleksi barunya.
“Antusiame luar biasa banyak yang suka tetapi pertanyaan muncul lagi, masyarakat tanya terus soal koleksi buku baru. Saya pun bertanya ke temen-temen di sosial media. Banyak yang bilang coba kegiatan motor pustaka di foto lalu diupload siapa tahu ada yang peduli” tutur Sugeng.
Ide cemerlang pikirnya, dia pun mencari pinjaman kamera digidal maklum saja seluler yang dimilikinya terbilang jadul. Lucunya, untuk urusan upload foto membutuhkan waktu sekitar satu jam di warnet. Sugeng cerita, jaringan internet warnetnya luar biasa lama. Tetapi itu bukanlah halanga yang penting foto dapat diupload demi menjaring donatur yang bersedia menyumbangkan buku.
”Sebenarnya kalau dipikir-pikirnya, lebih besar biaya upload foto ketimbang beli bensin dan wara-wiri” terang Sugeng
Koleksi buku pun bertambah, Sugeng beraktifitas bersama motor pustaka selepas bengkel tambal bannya tutup. “Saya buka bengkel tambal ban dari pagi sampai sore lalu Menata buku, sekitar jam 4-6 sore barulah motor pustaka beroperasi berkeliling dari desa-desa di lampung selatan” katanya.
Langkahnya terbilang kecil, namun bermanfaat bagi orang banyak. Sugeng pun punya harapan semakin banyak motor pustaka lainnya di wilayah Indonesia yang nantinya bisa melayani masyakat. Hal yang sederhana dengan meminjamkan buku dan dapat diakses lebih mudah oleh masyarakat.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU