Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Pengabdian untuk Leuser

Sosok
23 Aug 2016
Pengabdian untuk Leuser

 

Sejak usia 5 tahun, Rudi Putra sudah melihat kampung halamannya di Tamiang, Aceh rusak akibat perilaku illegal logging. Air sungai yang jernih jadi keruh karena oknum perusak lingkungan. Perasaan Rudi kecil pun pilu, namun bingung ingin berbuat apa.

 

Pengalaman itu yang mendorong Rudi Putra untuk terus aktif dan peduli dengan lingkungan. Kini, di usia 39 tahun, bersama Forum Konservasi Leuser, Rudi masih mengabdikan menjaga kawasan ekosistem Leuser.

 

Bertahun-tahun menjadi aktivis lingkungan hidup, Rudi fokus menjaga ekosistem dari kegiatan ilegal perkebunan kelapa sawit. Berkat kegigihannya ini, ia diganjar penghargaan Goldman Prize pada 2014 di San Fransisco, Amerika Serikat.

 

“Dasarnya sejak saya kecil. Sungai kami yang dikenal jernih, bisa mandi puas jadi keruh. Ratusan balok hanyut gara-gara ditebang. Itu yang buat saya berpikir,” kata Rudi kepadahariansuaracom, pekan lalu.

 

Tingginya permintaan minyak kelapa sawit dengan harga jual tinggi namun produksi murah membuat banyak pihak tertarik mengeruk untung di sektor ini. Penebangan secara ilegal terus bertambah untuk membuka lahan kelapa sawit. Persoalan ini yang dihadapi Rudi.

 

Tak mudah upaya yang dilakukan alumni Universitas Syah Kuala, Banda Aceh tersebut. Perjuangan patrol rutin sampai menginap di hutan berhari-hari pernah dilakoni Rudi. Kawasan hutan yang sangat luas tak sebanding dengan jumlah sumber daya manusia yang peduli.

 

Tapi, hal tersebut  bukan menjadi hambatan. Namun, justru membuat Rudi terpacu untuk berbuat suatu hal positif. Apalagi, ancaman punah terhadap species langka seperti Badak dan Orangutan Sumatera terus bertambah.

 

“Saya berpikir pengabdian, bukan hanya pekerjaan. Ini lebih kepada pengabdian. Kalau kita kehilangan hutan, kita kehilangan segalanya,” tuturnya.

 

Upaya memerangi perkebunan kelapa sawit ilegal ini dilakukan Rudi dengan kesabaran. Berkali-kali, imbauan secara persuasif dilakukan kepada pebisnis kelapa sawit.

 

Bersama rekan aktivis dan relawan masyarakat, ia korbankan waktu berbulan-bulan tanpa pernah lelah untuk melakukan sosialisasi bahaya perkebunan kelapa sawit illegal ini. Bagi Rudi, pebisnis kelapa sawit ielgal bukan penjahat. Namun, harus dianggap sebagai teman.

 

“Kita sampaikan dengan cara sopan. Mereka bukan penjahat. Kita jadikan teman. Pelan-pelan kita sampaikan secara persuasif,” ujarnya.

 

Lebih dari empat bulan, akhirnya perjuangan Rudi bisa terjawab. Dari 26 perusahaan kelapa sawit, 24 di antaranya menutup diri secara sukarela.

 

Pemilknya sadar akan bahaya dari kegiatan perusahaannya. Sementara, 2 perusahaan menolak menutup akhirnya berurusan dengan hukum. Berkat penutupan perusahaan ini, akhirnya ribuan  habitat bisa dipulihkan.

 

“Ekosistem, habitat syukur jadinya bisa diselamatkan,” tuturnya.

 

Keberhasilan itu tak membuat Rudi berpuas diri. Ia terus terpacu untuk aktif menjaga ekosistem hutan. Motivasi pengabdian untuk Leuser menjadi prinsipnya.

 

“Ini amal ibadah yang saya lakukan. Saya mencintai profesi ini,” sebutnya.

 

Upaya Rudi patut ditiru generasi muda Indonesia. Sosok seperti Rudi diperlukan untuk menjaga lingkungan hidup. Terlebih, saat ini masih sering terjadi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi.

 

Ada pesan yang disampaikan Rudi untuk pemerintah Indonesia. Diharapkan ada komitmen pemerintah terhadap pelestarian ekosistem hutan.

 

Kritikan ditujukan kepada  pemerintah yang sering mengklaim aktif menjaga hutan namun di satu sisi mudah mengeluarkan izin. Salah satunya kemudahan pemberian izin lahan untuk kelapa sawit.

 

“Pemerintah seperti memanjakan kelapa sawit karena praktiknya butuh lahan banyak,” sebutnya.

 

Salut, tetap semangat bang Rudi Putra!

 

 

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X