Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Tovi Dirikan Warung Shodaqoh Ungkapan Syukur kepada Allah

Sosok
15 Aug 2018
Tovi Dirikan Warung Shodaqoh Ungkapan Syukur kepada Allah

hariansuara.com, Yogyakarta - Sebuah pemandangan yang menggugah hati terlihat di Jalan Gedongkuning 126 B, Yogyakarta setiap Jumat. Di trotoar depam rumah yang sekaligus perusahaan batu CV Yuka Stone Art itu dibuka warung sederhana a la angkringan khas Yogya, namanya Warung Shodaqoh.  Dan hanya tiap Jumat, sebelum pukul 10.30, kaum dhuafa berdatangan. Ada tukang pulung, penyapu jalan, tukang becak, anak jalanan, lansia, tunawisma sampai mahasiswa yang kehabisan uang untuk makan. 

Sementara itu dengan sigap, 3 karyawati penggiat Warung Shodaqoh membungkus nasi, lengkap dengan lauk dan sayur, serta air teh hangat. Ya, inilah pemberian makan siang gratis untuk kaum dhuafa. Setiap orang bisa mendapatkan dua bungkus nasi dengan menu yang berganti setiap minggu. 

"Sejak September 2014, tiap Jumat mulai jam 11 siang, Warung Shodaqoh insyaAllah melayani saudara-saudara kita yang mau ambil makan siang gratis," ujar Tovi, pemilik CV Yuka Stone Art, sekaligus pendiri Warung Shodaqoh pada hariansuara.com di kediamannya. 

"Pendek kata, siapa saja yang berkenan, monggo, silakan datamg. Selain di rumah ini, ada satu lagi yang saya kelola, yaitu di Titik Nol. Alhamdulillah, semangat berbagi ini menular. KIni ada 5 Warung Shodaqoh, tiga di Yogya, dan dua lainnya di Bekasi dan Cawang, Jakarta. Tapi saya hanya punya dua ini saja, yang lainnya sahabat yang menjalankannya. 'Kan memang maunya franchise gratis. He he he."

WARUNG SHODAQOH TANDA SYUKUR KEPADA ALLAH

Tovi, sapaan pengusaha batu Yuniana Oktoviati. Terinspirasi oleh Warung Shodaqoh di Pekalongan, ibu dua anak ini terpikir untuk berbagi dengan sesama.

"Saya merasa hidup saya kok enak banget. Allah sangat sayang pada saya dengan memberi ujian kesenangan dan kemudahan. Pikir saya, saya nggak boleh lengah, dan untuk itulah saya harus berbagi dengan sesama yang membutuhkan," ujar Tovi yang menyediakan 100-150 porsi makan siang untuk kaum dhuafa di rumahnya, sedangkan di Warung Shodaqoh 0 Kilometer sekitar 200-250 nasi bungkus. "Saya pilih jalan memberi makan, karena perut yang lapar itu bahaya, bisa membuka kunci-kunci ke hal yang negatif." 

Sejak kecil, lahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara pasangan pengusaha batu ubin dan marmer sukses di Yogyakarta, Tovi ibaratnya tak mengenal kata susah. Fasilitias lengkap, dari uang hingga mobil yang siap mengantarnya ke mana saja. Menuntut ilmu pun di sekolah bagus yang memungkinkannya ikut home schooling ke luar negeri saat di kelas III SMP. Pengalaman berharga yang memodalinya dengan kemandirian, wawasan global, tangguh, dan tidak cengeng.

Bersyukur, orang tuanya telah menanamkan life skill berniaga. Masih di SD, Tovi sudah belajar berjualan alat tulis dan menyewakan komik ke teman-teman. Prinsip kerja keras dan tidak bermalasan diserapnya baik-baik. Tatkala sepulang dari home schooling, sang Ibu tercinta wafat, lalu bisnis orang tua habis saat krisis moneter pada 1997-1998, ditambah ayahnya meninggal. Tovi baru berumur 22 tahun kala itu, sementara kakak-kakaknya sudah berumah tangga semua.

"Saya harus mencari hidup sendiri. Ini titik balik dalam hidup saya. Pilihannya hanya dua: maju atau nyusruk. Saya baru lulus D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada waktu itu," kisah Tovi, yang kemudian memilih untuk tegar memperjuangkan hidupnya sendiri.

"Saya tidak mau bergantung pada orang lain. Lulus kuliah, saya bekerja. Tapi karena gajinya tidak cukup untuk menghidupi diri sendiri, akhirnya saya putuskan wiraswasta. Jualan pakaian, rental play station sampai akhirnya Allah menunjukkan jalan untuk buka usaha kerajinan batu alam. Dipikir-pikir, mirip lingkup bisnis mendiang orang tua saya."

Sejak 2003, Tovi terjun total di bisnis batu. Semangat berniaga yang diwarisi dari orang tua makin menguatkannya. Semua dikerjakan sendiri. Mempelajari segala jenis batu, karakteristik hingga cara mengolahnya menjadi produk-produk yang artistik. Ia juga mengelola perusahaan, merekrut karyawan, ikut pameran ke mancanegara untuk memprospek buyers, mengawasi produksi dan mengurusi shipping. 

Bibit-bibit kerja telah ditanam, dan Tovi pun memanen kesuksesan. Bisnisnya berkembang dengan baik. Ia beroleh proyek pesanan dari luar negeri, dan mayoritas pembeli karya batu alamnya dari Eropa, Amerika, Australia, Asia dan negara-negara sahabat.  Ibu dua anak ini, Carens dan Carlito, terlihat sangat menikmati kerjanya. Seperti sore itu hariansuara.com menyambangi kediamannya, ia baru saja usai meeting dengan buyer yang memesan meja pantry dari batu alam yang didesain cantik, tapi tetap tepat guna.

SUKSES BERBISNIS TANPA KEHILANGAN HATI

Tovi telah berhasil survive dengan bisnis batu alamnya. Namun, ia tak lantas berhenti berkreasi. ia terus mengulik kreativitasnya, menggali inovasinya untuk terus maju. Katanya, "Bisnis seperti ini tidak boleh berhenti. Justru harus terus meningkatkan kreativitas, melahirkan kreasi-kreasi baru dan memberi nilai tambah pada produk yang dihasilkan. sehingga sulit ditiru.  Prinsipnya, menguasai pengetahuan tentang produk, dari manajemen maupun tekniknya. Tidak kalah penting, menguasai bahasa Inggris untuk berkomunikasi," urai Tovi menerjemahkan motto hidupnya, Set your goal, and try to make a way to achieve it in a good way. 

Tip sukses Tovi berbisnis tanpa kehilangan hati, bagaimana caranya? Disampaikan Tovi kepada hariansuara.com, adalah menjaga sikap kekeluargaan terhadap klien dan buyers. Diceritakannya, bagaimana hingga kini ia tetap berhubungan baik dengan buyer dari Eropa yang dikenalnya lewat agent dari Rusia. Setiap ia ke Indonesia, entah mencari batu atau furnitur, Tovi yang dihubungi. "Yang penting jujur, good service, bisa dipercaya, business compliance."

Di atas semua itu, menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akherat adalah mutlak. Cara yang ditempuhnya, bersedekah. Dan bersedekah itu, hemat Tovi, harus didisiplinkan. Dengan menyiapkan Warung Shodaqoh itu, dia pun mengondisikan dirinya untuk selalu punya hati, peduli pada sesama. Ini yang menurutnya akan menjaga keseimbangan diri antara membela kepentingan dunia dan juga membekali diri untuk kelak menghadap Sang Khalik. 

Itulah kisah inspiratif sosok istimewa hariansuara.com kali ini, Yuniana 'Tovi' Oktoviati yang terus berkarya, sambil membahagiakan keluarganya. Hidupnya kini jauh lebih bermakna, tenteram dan bahagia. Memiliki keluarga yang utuh, dengan anak-anak tercinta dan suami yang penyayang, Stewart Gordon, pria asal Irlandia. Sibuk dengan batu alamnya, tapi tetap terjaga menjadi istri dan ibu bagi keluarga yang dicintainya. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X