
Alor - Dari kampung kecil bernama Umapura, Alor Barat Laut, NTT, wanita bernama Aisyah Nasir (51) ini memulai usahanya.
Sejak kecil ia berada dalam lingkungan keluarga penenun. Keluarganya biasa membuat tenunan selendang, sarung, baju dan sebagainya. Hal ini membuatnya trampil menenun.
Ibu dari 3 anak ini kemudian tergerak untuk terjun serius dalam bisnis tenun ikat, ketika ketiga putranya mulai duduk di sekolah menengah.
“Saya bercita-cita anak-anak saya dapat pendidikan di perguruan tinggi. Saya ingin mereka semua menjadi sarjana, jangan seperti kami, orangtuanya,” tutur wanita yang akrab disapa Mama Boi ini.
Saat itulah Mama Boi mengawali usahanya, tahun 1997.
“Saya sendiri yang belanja benang dan kemudian menenun. Ada selendang. Ada sarung, selimut,” kenang Mama Boi.
Ia membuat beragam motif dan mewarnai dengan pengalaman yang telah didapatkannya sejak kecil.
“Untuk pewarnaan, ada benang yang sudah berwarna, tinggal beli di toko. Tapi ada juga benang yang harus saya warnai sendiri dengan bahan alam. Misalnya dengan daun tang atau daun nila,” tuturnya kepada HarianSuara.com.
Membuat tenun ikat dengan bermacam pola, memerlukan waktu lumayan lama.
“Satu potong tenunan, selesainya sekitar satu bulan,” ungkap Mama Boi.
Ketika semua tenunan telah siap jual, Mama Boi masih harus berjuang untuk memasarkan agar laku dibeli orang.
“Nanti kalau tenunan sudah jadi, saya bawa jalan, saya tawarkan keliling dari kampung ke kampung. Kalau tidak begitu, mana bisa jualan saya laku. kampung kami kecil,” katanya.
Dan karena Kampung Umapura terletak di pulau terpencil, maka Mama Boi harus menumpang perahu motor ke Pulau Alor.
Ia biasa berangkat pagi-pagi sekali agar petang harinya ia bisa pulang ke kampungnya lagi.
Bisa dikatakan ia memasarkan tenun ikatnya itu dari pintu ke pintu. Terkadang, tidak selalu dalam sehari itu, jualannya laku. Tetapi hal itu tak membuat Mama Boi putus asa.
“Saya tahu Tuhan tidak akan diam saja melihat kita susah payah berusaha dengan jalan halal,” ujarnya.
Selain jualan keliling dari kampung ke kampung, hasil tenunan Mama Boi juga disalurkan dari sekolah ke sekolah lewat jaringan sang suami, Nurdin Nasir (61). Kala itu suaminya berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar.
Keyakinan Mama Boi mendapatkan jalan. Empat tahun kemudian, pada tahun 2001, ia mendapat tempat jualan di Pasar Kadelang dan Pasar Binongko, Kalabahi.
Hal ini membuat ia lebih bersemangat. Ia kemudian merekrut beberapa karyawan untuk membantu menenun. Karena kini mulai ada pelanggan yang memesan.
Kiosnya mulai banyak terisi barang dagangan, diantaranya selendang yang dihargainya 35 ribu rupiah. selimut seharga 200 - 500 ribu rupiah. sarung seharga 200 ribu - 1 juta rupiah, songket seharga 185 - 300 ribu rupiah, baju seharga 300 - 500 ribu rupiah,
Ia juga membuat rompi untuk seragam anak-anak sekolah. Hal ini menumbuhkan kecintaan anak-anak pada seni tenun daerahnya sendiri.
Sejak itu banyak sekolah yang memesan rompi khas tenun ikat untuk seragam para siswanya.
Kini jerih payah Mama Boi memberikan manfaat bagi sekitarnya juga. Ia memiliki 5 orang karyawan yang semuanya berasal dari kampungnya, dengan gaji 300 - 500 ribu rupiah/bulan.
Yang tak kalah menggembirakan, ketiga anak Mama Boi sukses menjadi sarjana.
Kulsum Nasir lulus pendidikan FKIP Universitas PGRI Kupang, Sumarni Nasir lulus FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang dan Rahmad Nasir lulusan Magister Manajemen Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta.
“Sewaktu saya kuliah di Kupang, saya juga jual tenunan Mama di Kupang. Seperti Mama, saya juga jualan keliling. Akhirnya sering dipesan toko penjualan oleh-oleh khas NTT. Sekarang ini kami sudah mulai promosi lewat online dan media sosial. Saya rutin kirim tenunan
Mama ke Surabaya. Sekarung harganya 5 juta rupiah," ucap Rahmad Nasir, anak bungsu Mama Boi.
Tentang motif, motif tenunan Mama Boi adalah khas Ternate yakni gajah, penyu, ikan, pantai, buaya, bunga, rantai, naga, dan sebagainya.
Menurut Mama Boi setiap motif tenunan memiliki makna tersendiri. Karenanya dalam acara-acara adat, ada motif tertentu yang bisa digunakan.
"Setiap motif mempunyai makna. Misalnya motif rantai melambangkan persatuan dan kesatuan. Di masa lampau, motif-motif tenunan menunjukkan status sosial masyarakat," tutur Mama Boi.
Dalam berbisnis, Mama Boi ternyata tak semata-mata mengejar keuntungan.
“Saya merasa terpanggil untuk melestarikan dan mempromosikan seni Kabupaten Alor lewat tenun ikat. Saya berharap ada perhatian juga dari pemerintah karena sedikit banyak saya juga mendorong pendapatan asli daerah,” tutur Mama Boi.(Marzuki Tambe)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU