Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Rio Ferdinand Mantan Bek MU: Saya Pernah Kecanduan Miras

Sosok
26 Mar 2017
Rio Ferdinand Mantan Bek MU: Saya  Pernah Kecanduan Miras

Kehilangan sang istri, Rebecca. 34, di tahun 2015 membuat mantan pemain sepak bola Inggris, Rio Ferdinand, sangat sedih. Ia baru-baru ini mengaku telah tenggelam pada alkohol selama beberapa waktu.

 

“Setiap tengah malam, saya dilanda kesedihan yang amat sangat. Saya teringat Rebecca. Saya terkenang saat-saat indah bersama anak-anak. Saya tak tahu ia pergi secepat itu. Terkadang saya menyesali kenapa yang meninggal dia, bukan saya,” katanya.

 

Setelah berjuang melawan kanker payudara, sang istri tercinta meninggal pada Maret 2015. Ini membuat pria usia 38 tahun ini menjadi orangtua tunggal bagi 3 anak mereka. Lorenz, 10, Tate, 8 dan Tia, 5. Begitu yang dilansir Daily Mail ketika Rio diwawancara Radio Times.

 

“Saya harus melewati kesedihan saya. Saya harus berjuang untuk beradaptasi menjadi orangtua tanpa pasangan,” tuturnya sedih.

 

 

Rio menceritakan, ia bertemu Rebecca ketika usianya 21 tahun. Mereka saling jatuh cinta dan menikah pada tahun 2009 di Peter Island.

 

Rio mengaku sangat terguncang kehilangan Rebecca. Mendadak menjadi orangtua tunggal dua tahun lalu, rasanya masih sulit diterimanya.

 

“Menjadi ibu dan sekaligus ayah seperti mimpi buruk. Saya mencoba memerangi kesedihan dengan alkohol,” ungkapnya.

 

Mantan bek Manchester United ini mengaku, “Pada awalnya saya minum banyak suatu malam. Saya meninggalkan anak-anak di rumah untuk minum-minum. Itu terjadi 3 atau 4 bulan. Tetapi setiap pagi saya akan bangun dan mengantar anak-anak ke sekolah. Lalu mengerjakan tugas-tugas saya lainnya.”

 

Rio kini menyadari betapa egoisnya dia dulu. Semua urusan rumah tangga bahkan anak-anak ditangani oleh Rebecca. Memang sih, dia akan sesekali membawa anak-anak ke luar rumah.

 

“Dalam struktur rumah tangga, laki-laki tidak melihat detil di dalamnya. Beda dengan para wanita, mereka berpikir terus-menerus apa yang perlu dilakukan," ujarnya.

 

Biasanya saya setelah bangun, berpakaian, kemudian sarapan dengan anak-anak. Mengantar mereka ke sekolah, lalu pergi ke tempat latihan.

 

Sekarang saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan itu hanya sedikit sekali. Jauh berbeda dengan Rebecca. Ia melakukan semuanya untuk anak-anak, untuk saya, untuk seluruh keluarga.”

 

Ketika Rebecca pergi, Rio baru melihat jejak yang dilakukan setiap hari, setiap saat oleh pasangannya itu. 

 

"Dulu, semuanya terasa begitu mudah karena Rebecca akan mengisi semua kekosongan yang saya tidak terlibat di dalamnya. Sekarang skenarionya sama sekali berbeda. Saya sempat bingung ketika dihadapkan pada acara bangun pagi, dimana sepatu anak-anak? Dimana pakaian mereka? Dimana tas mereka?”

 

Bahkan ketika berada di sekolah anak-anak, masih banyak masalah yang harus dihadapi.

 

“Ada orangtua murid yang datang dan menanyakan, `Bisakah kita membawa anak-anak ke tempat bermain bersama-sama? Kapan? Kemana? Wow, banyak yang harus kita hadapi hanya untuk urusan anak-anak saja. Dulu saya tidak tahu semua hal ini."

 

Rio menambahkan bahwa bahkan membawa anak-anaknya ke tempat tidur saja, sudah merupakan kesulitan tersendiri. 

 

“Saya tidak tahu ritual Rebecca untuk menidurkan anak-anak. Ketika anak-anak menceritakan apa yang dilakukan Rebecca, saya merasa apa yang saya kerjakan tidak sebaik Rebecca.”

 

Apa yang dialami Rio memang tengah direkam untuk sebuah film dokumenter.

 

 

“Kini setelah mampu menyapu semua kesedihan saya, saya mulai dapat menerima kenyataan. Saya harus bahagia agar bisa membawa anak-anak juga bahagia. Dan film ini yang mengisahkan pejalanannya melewati kepahitan dan menemukan kebahagiaan, dinilainya akan membuat almarhum istrinya senang.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X