Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Inspirasi

Yoseph Orem Blikololong, Dirikan Sekolah Dari Kumpulan Sampah

Sosok
23 Apr 2017
Yoseph Orem Blikololong, Dirikan Sekolah Dari Kumpulan Sampah

 

hariansuara.com, Kupang – Melihat anak-anak yang ditemuinya di sepanjang perjalanan saat mengumpulkan barang-barang bekas, hati pria ini prihatin.

 

Apa jadinya masa depan mereka kelak? Apakah akan menjadi seperti dirinya, mengukur jalanan kota sepanjang hayatnya?

 

Hal inilah yang membuat Yoseph Orem Blikololong, 57 tahun, pemulung, terobsesi mendirikan sekolah gratis untuk mereka.

 

Ia sendiri memulai profesinya sebagai pengumpul barang-barang sampah di Kupang pada tahun 2004. Pekerjaan sulit didapat, dan ia memiliki 3 orang anak-anak. Melihat tumpukan sampah semisal kardus, gelas-gelas plastik dan barang lainnya, terpikir olehnya untuk mengumpulkan. Dan menjualnya kembali.

 

Menyingkirkan rasa malu dan karena ini toh pekerjaan halal, Yoseph memulai usahanya.

 

“Saya berangkat memulung pada pagi buta, jalan kaki. Saya pergi ke Ramayana Mall, di sana banyak toko-toko yang membuang sampah. Itu saya kumpulkan,” tutur Yoseph pada hariansuara.com.

 

 

Ditertawakan teman-teman

 

Dengan jalan kaki, ia butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi. Namun apabila ia ada keperluan dan harus berangkat siang, ia harus naik angkot dua kali. ”Sekali naik angkot bayarnya Rp. 2000,” ungkapnya.

 

Sehari penuh ia akan bekerja mengumpukan barang-barang terbuang tersebut. “Petang saya baru pulang. Istri saya, Tervina Yunungsih Maakh akan membantu ketika saya tiba di rumah,” tuturnya.

 

Semua barang-barang itu akan disortir, kardus, karton, barang plastik, besi-besi dan sebagainya.

 

“Saya bersihkan, lalu saya jemur. Kalau ternyata hujan, ya saya biarkan. Biasanya hingga 4 hari setelah semua kering, baru saya jual ke pengepul,” tuturnya.

 

Tak selamanya, ia selalu berhasil mendapatkan barang-barang bekas tersebut. “Kadang kalau hari libur, banyak toko-toko tutup, nah saya tidak dapat penghasilan.”

 

Namun Yoseph selalu bersyukur untuk profesi yang ditekuninya itu. “Saya sangat beryukur, Tuhan memberi saya jalan untuk membiayai keseharian keluarga saya.”

 

Namun ia merasa prihatin dengan teman-temannya yang lain. “Mereka masih muda-muda, masih masanya menimba ilmu. Tapi mereka tidak sekolah karena tidak mampu. Saya pikir kalau mereka dapat bersekolah, tentu mereka punya masa depan yang lebih baik. Dari situ saya berpikir, bagaimana caranya agar anak-anak muda itu tidak jadi pemulung seperti saya. Artinya mereka harus bersekolah."

 

Yoseph pun berniat membuat sekolah. Hal itu diceritakannya pada teman - teman pemulungnya yang sudah tua-tua. "Mereka menertawakan saya. Saya dibilang sinting, gila, ngelantur. Itu hal mustahil bagi pemulung seperti kami.”

 

 

Mendirikan PAUD

 

Yoseph menyimpan impiannya itu dalam hati. “Saya menabung setiap hari untuk punya sekolah. Saya dapat banyak rejeki  dari Tuhan, yang juga ada sebagian titipan untuk orang lain. Saya ingin mengembalikannya pada sesama dalam bentuk yang lebih manfaat. Yaitu mendirikan sekolah.”

 

Tahun 2008, cita-cita Yoseph terwujud. Ia memulai dengan mendirikan sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Peduli Kasih.

 

“Saya siapkan di rumah saya sendiri di Jalan Timor Raya, Kilometer 6, Kompleks STIBA Mentari, RT. 010/RW. 004, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang."

 

 

Pertama kali ia memasang papan nama PAUD. Kemudian mencari murid. “Mencari murid ini bukan pekerjaan mudah. Saya dan istri menemui para tetangga satu persatu. Meminta agar anak-anak mereka sekolah, gratis di rumah kami. Ada yang tidak percaya dan tidak mau mendaftarkan anaknya. Tetapi ada juga tetangga yang senang. Dan mengantar anaknya ke rumah kami untuk sekolah.”

 

Pada awal itu Yoseph dan sang istri yang mengajar anak-anak tersebut.  Melihat kegiatan itu rutin berlangsung, barulah para tetangga dan kenalan percaya dan menyekolahkan anak-anak mereka dengan gratis ke sekolah Yoseph.

 

Dari situlah, Yoseph membuat Yayasan Peten Ina yang mewadahi kegiatan belajar tersebut.

 

PAUD Peduli Kasih, hingga tahun 2017 ini memiliki dua kelas. Kelas A dan Kelas B. “Kelas A jumlah murid 22 anak dan kelas B jumlah murid 16 anak. Sekarang tidak hanya tetangga, tetapi juga ada dari kelurahan bahkan kecamatan lain di Kota Kupang. Tidak ada pungutan biaya. Gratis di sini. Sekarang saya ambil tenaga guru 1 lagi, yang saya gaji Rp. 200.000 perbulan. Dia bantu istri saya mengajar.”

 

 

Mendirikan SMP

 

Setelah PAUD berjalan 3 tahun dan membuahkan hasil, Yoseph terpikir untuk mendirikan SMP. Ia memilih SMP yang lebih pendek tahun ajarannya daripada SD, yang tentu membutuhkan ruang lebih banyak dan pengajar yang lebih banyak pula. Beda dengan SMP yang hanya 3 tahun.

 

Pada tahun 2011 Yoseph mendirikan SMP Surya Mandala. “Saya menyewa gedung di dekat rumah saya, di gang Monitor,  Kompleks Belakang Kampus Unkris. Yang punya Mama Lada, pemilik Hotel Cendana, Kupang. Saya sewa per bulan 18 Juta rupiah.”

 

 

Namun Yoseph harus berhitung.  “Uang tabungan saya cukup untuk beli peralatan sekolah, misalnya meja kursi, papan tulis dan sebagainya, tapi untuk sewa, saya tunda dulu. Saya bilang sama Mama Lada, sewa gedung, saya harus ajukan dulu ke pemerintah supaya dapat dana BOS. Dia setuju.”

 

Seperti saat mencari murid PAUD, Yoseph pun susah payah mencari calon murid-murid SMP. “Mereka dapat dibilang anak jalanan. Ada yang pemulung, penjual sayur, kenek, sopir, kondektur, tukang ojek dan lainnya. Saya suruh mereka datang buat sekolah. Gratis, tidak ada biaya.”

 

Sebagian ada yang hadir, namun sebagian lagi tidak muncul, Tetapi Yoseph tidak mundur. Angkatan pertama SMP Surya Mandala pada Tahun Ajaran 2012, jumlahnya 57 siswa.

 

“Alhamdulillah, saya cari murid pakai bantuan teman-teman. Saya beri ongkos buat ke desa-desa lain, sampai ke Soe, Kefa hingga Atambua.”

 

Dari 57 siswa tersebut yang bertahan hingga ikut Ujian Akhir Sekolah berjumlah 18 siswa. Mereka berhasil lolos ujian, dengan menitip ujian gabung dengan SMP Negeri 16 Kupang di Perumnas Fatubesi.

 

 

Harus ekstra sabar

 

Namun menghadapi para murid terkadang membuat Yoseph harus sabar, “Kami sudah susah payah mengajar, tetapi mereka ada yang tidak serius. Sudah sering kami nasehati, ini buat masa depan kamu. Tapi ada saja yang bandel. Kami capek juga kadang-kadang.”

 

Ujian Akhir Sekolah tahun 2017 ini ada 28 siswa yang ikut, dari 39 siswa yang mendaftar.

 

“Siswa yang berhenti di tengah jalan, sering kami datangi lagi. Kami ajak untuk sekolah lagi. Mungkin mereka terbiasa bebas di jalanan, kadang sulit diajak disiplin sekolah,” ungkap Yoseph dengan prihatin.

 

Namun jerih payahnya itu mendapat perhatian pemerintah. Tahun 2014 SMP Surya Mandala mendapat bantuan BOS sehingga dapat membayar sewa gedungnya. Meski untuk sekolah anak-anak tetap gratis.

 

Guru - guru SMP Surya Mandala tetap betah mengajar karena memiliki kesamaan visi misi dengan Yoseph yakni mencerdaskan anak anak bangsa.

 

 

"Saya mendirikan PAUD Peduli Kasih dan SMP Surya Mandala ini, bukan mau berbisnis. Saya hanya ingin membantu orang-orang susah, orang-orang yang ingin sekolah tapi tidak ada uang."

 

Hingga saat ini Yoseph masih setia dengan pekerjaannya. Tiap pagi ia akan bangun menyusuri jalanan kota Kupang ke lokasi tempatnya mengais rejeki.

 

Dalam sehari, ia kadang mendapatkan 2 ribu kilogram sampah. “Kalau sepi ya seribu kilogram. Tapi kalau untung ya sampai 4 ribu kilogram perhari. Saya jual per kilogramnya seribu rupiah. Dari hasil itu saya menghidupi keluarga saya. Tetapi sekarang agak sulit, karena banyak rebutan lahan. Tetapi saya akan tetap bertahan. Tuhan akan memberi jalan kalau kita memiliki keinginan untuk membuat orang lain mempunyai masa depan cerah.”(Marjuki Tambe)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X