
hariansuara.com, Jakarta - Memiliki putri dengan keterbatasan memang bukan hal yang mudah untuk mendidiknya. Namun hal itu disambut dengan lapang dada oleh nyonya Maria Yustina Tjandrasari.
Putrinya, Stephanie atau Fani panggilan akrabnya menyandang down syndrome. Seorang penyandang tunagrahita perlu bantuan untuk segala hal seputar kehidupannya. Hal ini sangat disadari sang ibunda, Yustina. Yang kemudian memilih meninggalkan kariernya untuk lebih fokus membesarkan putrinya itu.
Mengajari hal-hal sepele berulang-ulang
“Berat membesarkan anak dengan kebutuhan khusus seperti Stephanie. Tantangan terbesar justru komentar dan terkadang cibiran dari masyarakat," tutur Yustina seperti ditulis Kompas.com.
Mengetahui putrinya mengalami down syndrome, Yustina justru bersemangat untuk membesarkan Fani dan memberikan yang terbaik untuknya.
"Saya pernah membaca buku tentang down syndrome. Di sana dituliskan bahwa anak dengan down syndrome harus diberi stimulasi sedini mungkin. Jadi saya memilih renang dan musik untuk kegiatan Fani, karena keduanya sangat baik untuk menstimulasi pikiran dan tubuh," kata Yustina.
Bukan itu saja, anak-anak seperti Fani harus terus dilatih untuk beraktivitas mulai dari hal-hal kecil. Misalnya saat makan, “Saya harus mengajari Fani berulang kali cara memegang sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulut. Untunglah Fani sendiri adalah anak yang teguh. Ia punya semangat yang tinggi dan selalu senang untuk belajar," tambah Yustina.
Peraih medali emas renang
Yustina juga membuat sejumlah program spesial dengan tujuan spesifik untuk Fani. Dengan sabar Yustina mengawal perkembangan Fani, Fani tumbuh lebih cepat. Pada usia 1,5 tahun, Fani sudah bisa berjalan dan di usia 5 tahun ia sudah mampu membaca. Dua hal ini merupakan capaian yang luar biasa bagi anak-anak dengan down syndrome.
Kerja keras Yustina tak sia-sia, Putrinya yang andal dalam olahraga renang mulai menorehkan prestasi. Tahun 2011 Stephanie meraih medali emas cabang olahraga renang di Special Olympics World Summer Games. Acara bergengsi itu diselenggarakan di Athena, Yunani untuk nomor 50 meter gaya dada. Ajang ini memang merupakan pesta olah raga bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari seluruh dunia.
"Fani kemudian menjadi inspirasi bagi teman-temannya di Indonesia karena berhasil memecahkan rekor. Sebelumnya Indonesia belum pernah menang di kompetisi itu. Tapi setelah Fani berhasil menang, banyak temannya yang ingin menyamai langkah Fani," ujar Yustina dalam wawancara dengan The Jakarta Post beberapa tahun silam.
Setahun berikutnya Stephanie menjadi wakil Indonesia sebagai pembawa obor Olimpiade London. Fani terpilih dari 12 juta kandidat dari seluruh dunia untuk membawa obor.
Dengan deretan prestasinya di bidang olahraga, Fani pun berhasil terbang ke Nottingham, London dan berlari membawa obor olimpiade bersama 20 anak lainnya. Dia tercatat sebagai anak penyandang tunagrahita pertama yang menjadi pembawa obor di pesta olahraga terbesar di dunia itu.
"Saya senang dan bangga bisa menjadi wakil Indonesia di sana," kata Fani
Lebih mandiri
Selain di bidang olahraga, Fani juga tercatat di Rekor MURI pada tahun 2009 lantaran memainkan 22 lagu dengan piano tanpa henti. Prestasi-prestasi itulah yang mengantarkan Fani berjumpa dengan sejumlah figur publik. Di antaranya David Beckham di Olimpiade London 2012 dan Presiden Joko Widodo.
Yustina berusaha mendukung Fani untuk menjalani hidup normal seperti anak lainnya. Fani sendiri bercita-cita menjadi chef. Dan setelah lulus dari SMK Pariwisata pada tahun 2012, Fani menjalankan bisnis laundry bersama sang ibunda.
“Saya berharap, dengan mengajarkan Fani berbagai keterampilan, dia bisa mandiri di masa depan,” tutur Yustina. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU