
hariansuara.com, London – Itu adalah pesan ibu tiga anak yang telah mengalami nasib memilukan.
Ashley Murrell, 33, bertengkar sengit dengan suaminya, Mikey, 36, ketika sang suami pulang terlambat dari kerja shift-nya. Sudah beberapa hari berturut-turut.
Mikey bekerja sebagai pembersih karpet. Ashley sendiri adalah terapis kecantikan.
Malam itu mereka gagal menyelesaikan argumen mereka. Dalam kemarahannya, Ashley tak membolehkan suaminya tidur di kamar. Ia kemudian menyuruh suaminya tidur di sofa.

Esok paginya, ketika Ashley mencoba membangunkan sang suami, ia menemukan suaminya telah meninggal dunia.
Menabung untuk piknik
Ashley belakangan baru mengetahui bahwa keterlambatan suaminya itu karena ia kerja lembur. Kerja ekstra yang diam-diam dilakukannya itu membuatnya sangat kelelahan. Namun pria penyayang keluarga itu sama sekali tak mengeluh. Meski kelelahan amat sangat, ia tetap saja pergi bekerja
"Dia bekerja 16 jam tiap hari selama 7 hari dalam seminggu. Ternyata ia ingin menambah tabungan supaya bisa membawa kami ke Disney dan Praha. Meski kelelahan, dia akan melakukan apapun hanya untuk melihat kami tersenyum. Sebenarnya saya sangat khawatir, kesehatannya akan menurun dengan cepat, tetapi dia tidak peduli.
"Malam itu dia pulang dengan penampilan berantakan. Saya belum pernah melihatnya begitu lelah. Saya tidak tahan melihat dia seperti itu. Saya marah, saya muak. Lalu saya bilang padanya, tidur saja di sofa. Saya ingin dia bekerja dengan wajar, dan ada waktu lebih banyak untuk bersama kami di rumah.”
Ucapkan Sayang Sebelum Tidur
Pasangan ini bertemu tahun 2007 dan menikah tahun 2010. Setelah menikah, Mikey Murrell mengadopsi putri Ashley, Morgan, 14. Pasangan tersebut mendapatkan bayi kembar Mikey Junior dan Lisa pada tahun 2013.
Namun pada 2014 Mikey cedera punggung setelah mengangkat beban. Hal ini membuat ia menderita radang sendi tulang belakang.
"Setelah cederanya, Mikey tidak pernah sembuh betul-betul,” kata Ashley, "Namun dia tetap memaksa diri untuk bekerja demi anak-anak. Saya tahu hal ini bisa berakibat fatal. Saya sering mengingatkannya, dan kemudian kami bertengkar.”
Kepergian Mikey tak saja membuat Ashley sedih namun juga bingung ketika menghadapi anak-anak.
"Untuk menjelaskan bahwa ayah sudah meninggal kepada anak-anak, menjadi salah satu bagian tersulit. Awalnya saya diam saja. Tapi mereka terus bertanya kapan ayah pulang. Ketika saya bilang ayah telah di surga, anak laki-laki saya selalu bertanya apakah kita bisa mengunjungi ayah di surga,” tutur Ashley sambil berkaca-kaca.
Kepergian yang mendadak itu awalnya diterima dengan lapang dada oleh Ashley. Ia merasa akan baik-baik saja, tegar menjalani kesehariannya.
“Namun kemudian datang suasana dimana setiap hal kecil akan mengingatkan saya padanya. Misalnya ketika suatu hari saya menyetir dan anak-anak bernyanyi di belakang, Mereka nampak bahagia. Saat itulah membawa kilas balik ketika Mikey masih bersama kami. Saya dilanda rasa sedih.”
Pada pemakaman suaminya tercinta, Ashley sempat berpesan pada rekan-rekan yang datang menemaninya.
“Menjelang tidur malam, jangan bawa kemarahan. Ciumlah orang yang Anda cintai. Katakan bahwa Anda menyayangi mereka. Biarkan mereka tahu bahwa Anda mencintai mereka meski Anda tengah berjauhan. Sebab, kadang malam itu adalah malam terakhir, perpisahan yang menjadi takdir.
"Suatu hari nanti, Anda tidak pernah tahu, mereka akan tumbuh sayap dan terbang ke surga. Hiduplah sehari-hari seolah-olah itu hari yang terakhir. Dan lepaskan hal-hal buruk di masa lalu. Hidup kita terlalu pendek dan mereka yang kita cintai, terkadang sangat cepat untuk pergi.” (*) Harry Foto: MercuryPress&Media
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU