
Jakarta – Kementerian Perdagangan mendorong pemanfaatan karet alam sebagai campuran aspal. Hal tersebut sesuai hasil kesepakatan tiga negara International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang bertujuan meningkatkan konsumsi karet alam domestik melalui uji coba pemanfaatan untuk campuran aspal.
Dalam uji coba, campuran aspal karet alam dilakukan di Jalan Raya Sukabumi (Ruas Ciawi-Benda Km. 12), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/12). Pihak yang melakukan uji coba adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PERA).
“Sejak komitmen bersama yang dicanangkan 2015 silam, Pemerintah Indonesia sepakat memanfaatkan karet alam secara masif khususnya dalam pembangunan infrastruktur domestik yang dibiayai APBN," ujar Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Nurlaila Nur Muhammad, seperti dikutip dari kemendag.go.id, Selasa (5/12/2016).
Dijelaskan Nurlaila, uji coba merupakan implementasi komitmen bersama yang sebelumnya dinyatakan pada 9 April 2015 oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian PU-PERA, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, dan BPPT serta didukung asosiasi.
"Kita ingin mengimplementasikan gagasan domestic demand creation. Gagasan tersebut disepakati tiga negara anggota ITRC (Thailand, Indonesia, dan Malaysia) pada pertemuan tingkat menteri di Kuala Lumpur, Malaysia, November 2014,” tuturnya.
“Meningkatnya konsumsi domestik maupun global akan menjaga keseimbangan supply-demand agar harga stabil," ujar Nurlaila.
Demo pengaspalan dilakukan sepanjang 200 m di satu sisi ruas Ciawi-Benda selebar 3,5 m dengan ketebalan 4 cm. Rencananya akan dilakukan uji coba skala penuh sepanjang 4,2 km.
Adapun campuran aspal yang digunakan merupakan jenis karet alam cair (lateks) sebanyak 7% dan aspal yang digunakan untuk uji coba skala penuh seberat 200 ton.
Bahan ini diperkirakan menyerap karet alam sebanyak 840 kg. Pencampuran karet alam ke dalam aspal bermanfaat membuat jalan lebih tahan cuaca dan beban.
Kinerja akan dimonitor paling sedikit dalam dua musim (kemarau dan hujan) dan evaluasi dilakukan selama dua tahun.
“Kemendag optimis dengan sinergi antar instansi, bahwa penggunaan karet alam domestik pada produk berbasis karet alam meningkat, maka permintaan akan karet alam juga ikut meningkat sehingga produksi yang 85% berasal dari petani mampu diserap,” tuturnya. (*) Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU