
Jakarta – Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memprioritaskan dana desa pada 2017 untuk membangun sektor pertanian.
"Dana desa merupakan model baru, tidak hanya di Tanah Air tetapi juga dunia. Desa diberikan kesempatan untuk mengelola keuangan sendiri. Jika dua tahun terakhir fokus pada infrastruktur jalan, pembangunan PAUD, maka pada tahun ini kita melihat perlu adanya pembangunan di sektor pertanian," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, Kamis.
Dia menilai saat ini, sarana dasar di desa sudah mulai cukup. Sehingga fokus pada pemberdayaan ekonomi desa. Apalagi sekitar 80 persen wilayah di Tanah Air merupakan sektor pertanian.
Ada dua langkah besar yang harus dilakukan, lanjutnya, yakni pengelompokkan pertanian dan pembangunan irigasi dan embung air. Jika skala produksi pertanian besar, maka akan mudah bagi pihak swasta untuk berinvestasi di desa untuk pengelolaan pascapanen.
Menurutnya, yang pertama yaitu pengelolaan sarana dan prasarana pascapanen. Saat ini ketika panen, hasil pertanian membludak dan harganya murah.
Kedua, yakni perlu adanya irigasi dan embung air. Dia menyebut hanya 45 persen desa di Tanah Air yang memiliki sarana irigasi yang berakibat petani hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun. Namun, jika ada embung air atau cekungan penampung air, maka penanaman padi bisa dilakukan tiga kali setahun.
"Kami meminta agar desa menganggarkan dana sekitar Rp 200 hingga 300 juta untuk pembangunan embung air ini," cetus dia.
Pada tahun ini, pemerintah menganggarkan dana desa sebesar Rp 60 triliun atau setiap desa mendapatkan dana sekitar Rp 800 juta hingga Rp 900 juta. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai Rp 1 miliar per desa pada tahun berikutnya.
Tak hanya dari dana desa, desa juga mendapatkan tambahan dana dari pemerintah daerah melalui Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp 300 juta hingga Rp 3 miliar per tahun tergantung daerahnya.
Eko mengatakan dana desa yang telah berjalan sejak tahun 2015 sebesar Rp 20,8 triliun dan Rp 46,9 triliun pada 2016 lalu telah memberikan efek pembangunan cukup signifikan.
Tercatat, dana desa telah membangun jalan desa sepanjang 66.179 kilometer, 65.573 unit drainase, 37.962 unit penahan tanah, 36.951 unit mandi cuci kakus, 16.069 unit instalansi air bersih, 12.540 unit irigasi sawah, 13.988 unit sumur desa, 11.221 unit PAUD, 3.100 unit poliklinik desa, 1.810 pasar desa, 1.366 unit tambatan perahu, 686 unit embung air, dan 511.484 meter jembatan desa.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU