
Jakarta – Pengusaha Afghanistan yang hadir pada Dialog Bisnis Indonesia-Afghanistan, ditawari kerja sama investasi di bidang industri manufaktur oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
"Sektor industri manufaktur dan jasa menjadi kunci dalam pertumbuhan Indonesia yang berkontribusi lebih dari 30 persen dari total GDP pada 2016," kata Airlangga dalam sambutannya saat dialog di Hotel Shangrila, Jakarta, Kamis.
Menurut Airlangga, kerja sama industri manufaktur non-migas yang berpotensi untuk ditingkatkan antara lain makanan-minuman, bahan kimia dan farmasi.
Indonesia, jelas menteri, termasuk sebagai salah satu dari sepuluh negara industri manufaktur terbaik di dunia.
Menurut data Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), total volume perdagangan bilateral pada 2016 tercatat menurun dari 2015 yaitu 16,25 juta dolar AS dari sebelumnya 36,6 juta dolar AS.
"Di masa-masa yang akan datang kita dapat memperkuat kerja sama perdagangan maupun investasi karena Afghanistan merupakan mitra perdagangan Indonesia di Asia Tengah," kata Airlangga.
Ia menyebutkan sejumlah kerja sama yang dapat dilakukan yaitu di sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, eksplorasi pertambangan, tekstil, bahan bangunan, motor roda dua hingga kapal laut dan pesawat terbang.
"Indonesia dapat memproduksi model-model yang sesuai dengan kebutuhan Afghanistan," kata Airlangga.
Dia juga mengajak pengusaha Afghanistan untuk memanfaatkan peluang investasi yang terbuka begitu besar di Indonesia seperti di bidang logistik dan infrastruktur.
Dialog bisnis tersebut dihadiri oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Ketua KADIN Rosan Roeslani serta Dubes Afghanistan untuk Indonesia Roya Rahmani dan Dubes Indonesia untuk Afghanistan Arief Rahman.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU