Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Jaga Kelestarian Badak Jawa, KLHK Bentuk Tim Khusus

Istana & Kementerian
18 Sep 2017
Jaga Kelestarian Badak Jawa, KLHK Bentuk Tim Khusus

 

hariansuara.com, Jakarta -  Menyongsong Hari Badak Sedunia pada tanggal 22 September mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan melaksanakan puncak peringatan di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, Provinsi Banten, sebagai salah satu lokasi warisan dunia yang memiliki satu-satunya jenis Badak Jawa di dunia.

 

Mengambil tema “Di Ujung Cula Badak Jawa”, langkanya keberadaan satwa Badak Jawa mengakibatkan satwa ini dikategorikan sebagai critically endangered dalam daftar Red List Data Book, oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Selain itu, Badak Jawa juga terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sebagai jenis yang jumlahnya sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah, serta ditetapkan sebagai jenis satwa dilindungi, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

 

Kepala Balai TN Ujung Kulon, Dr. U. Mamat Rahmat, dalam rangka menjaga kelestarian satwa Badak Jawa, Balai TN Ujung Kulon membentuk tiga tim khusus, yaitu Rhino Monitoring Unit (RMU), Rhino Protection Unit (RPU), dan Resource Based Management (RBM).

“Ketiga tim ini memiliki fokus-fokus khusus. RMU fokus kepada monitoring populasi dan kondisi badak, RPU fokus kepada upaya perlindungan dan pengamanan badak dari gangguan, serta RBM menjalankan pengamanan berbasis wilayah dan lintas wilayah”, jelasnya.

Baik tim RMU dan RPU dipimpin oleh para pegawai fungsional TN Ujung Kulon, dan beranggotakan masyarakat. Hal ini merupakan bentuk kolaboratif bersama masyarakat dan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

Menurut Dr. Mamat, sifat Badak Jawa yang cenderung soliter merupakan salah satu kendala dalam kegiatan inventarisasi dan monitoring, sehingga dalam habitatnya sendiri, satwa ini sulit dijumpai secara langsung.

 

Mamat juga menambahkan bahwa sejak tahun 1967 hingga 2008, metode monitoring populasi Badak Jawa sangat sederhana, yaitu dengan jejak kaki badak dan beberapa jenis temuan lainnya, seperti kotoran, urine, bekas tumbuhan yang dimakan, dan bekas gesekan pada batang pohon.

 

“Saat ini, monitoring sudah dapat dilakukan dengan teknik video trap, sejak tahun 2011 dan 2012, sebanyak 40 kamera video otomatis dengan sensor gerak, telah dipasang pada lokasi-lokasi yang sering dikunjungi Badak Jawa”, lanjutnya. Hingga tahun 2017, monitoring telah menggunakan kurang lebih 100 kamera video trap.

 

Sementara itu, berdasarkan hasil identifikasi tahun 2012, ditemukan minimal 51 individu Badak Jawa (29 jantan dan 22 betina), kemudian di tahun 2013 ditemukan minimal 58 individu (33 jantan dan 25 betina). Selanjutnya di tahun 2014, diketahui jumlah minimal 57 individu, dan di tahun 2015 jumlah Badak Jawa minimal 63 individu.

 

“Untuk jumlah terakhir perkiraan populasi Badak Jawa sampai saat ini, nanti akan kami sampaikan di tanggal 22 September mendatang saat perayaan Hari Badak Sedunia”, pesan Dr. Mamat.

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X