Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Lifestyle

Studi: Obsesi Selfie Berlebih Dapat Picu Gangguan Mental BDD

Lifestyle
05 Aug 2018
Studi: Obsesi Selfie Berlebih Dapat Picu Gangguan Mental BDD

hariansuara.com, Jakarta - Apakah anak remaja Anda kecanduan aplikasi edit foto seperti Snapchat untuk mendapatkan tampilan sempurna? Berhati-hatilah, karena itu dapat memicu gangguan dismorfik tubuh (BDD).

BDD adalah gangguan mental yang melibatkan keasyikan berlebihan terkait penampilan dan menyembunyikan ketidaksempurnaan. Penderitanya merasa malu dan cemas akan kekurangan atau cacat yang ada pada tubuhnya, walau sifatnya kecil atau bahkan tidak disadari orang lain.

Penderita gangguan dismorfik tubuh akan terus mencari prosedur kosmetik dengan mengunjungi dokter kulit atau ahli bedah plastik berharap untuk mengubah penampilan.

"Sebuah fenomena baru yang disebut 'Snapchat Dysmorphia' telah muncul, di mana pasien mencari operasi untuk membantu mereka muncul seperti versi yang difilter dari diri mereka sendiri," kata Neelam Vashi, dari Universitas Boston di Massachusetts, AS.

"Selfie yang difilter dapat membuat orang kehilangan kontak dengan realitas, menciptakan harapan bahwa kita seharusnya terlihat berpola sempurna sepanjang waktu," tambahnya, dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Facial Plastic Surgery Viewpoint.

Menurut berbagai penelitian, gadis remaja yang memanipulasi foto mereka lebih peduli dengan penampilan tubuh dan mereka dengan citra tubuh dysmorphic mencari media sosial sebagai sarana validasi.

Penelitian tambahan telah menunjukkan 55 persen dari laporan ahli bedah plastik melihat pasien ingin meningkatkan penampilan mereka untuk narsis.

"Ini dapat berbahaya bagi remaja dan mereka dengan BDD, dan penting bagi penyedia layanan ini untuk memahami implikasi media sosial pada citra tubuh," kata Vashi.

Pembedahan bukan tindakan terbaik dalam kasus ini, karena tidak akan membaik, dan dapat memperburuk BDD yang mendasari. Intervensi psikologis seperti terapi perilaku kognitif dan management of the disorder dengan cara yang empatik dapat membantu, para peneliti merekomendasi.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X