Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

CIPS: Kebijakan Pangan Pemerintah Seharusnya Mampu Mendorong Turunnya Angka Stunting

Nasional
12 Nov 2019
CIPS: Kebijakan Pangan Pemerintah Seharusnya Mampu Mendorong Turunnya Angka Stunting

hariansuara.com, Jakarta  - Stunting adalah kondisi di mana balita mengalami kekurangan gizi yang menyebabkan rasio tinggi badan terhadap umur mereka jauh lebih rendah daripada angka rata-rata pada anak seumurnya. 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, stunting pada balita diakibatkan oleh berbagai sebab, tiga diantaranya adalah buruknya kondisi gizi dan kesehatan ibu sebelum, sedang dan setelah hamil, rendahnya asupan makanan ke balita, terkhusus rendahnya kuantitas, kualitas dan variasi komponen gizi dan adanya infeksi. Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting tertinggi ke-4 di dunia berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018.

Hasil penelitian CIPS menunjukkan, secara umum, kenaikan harga pangan berpengaruh secara signifikan terhadap menurunnya tingkat konsumsi. Kenaikan harga pangan sebesar Rp 1.000 akan berpotensi mengurangi konsumsi beras rumah tangga per kapita bulanan sebesar 0,67 kg.

Galuh juga menambahkan, rata-rata harga beras lokal dan internasional terpaut berbeda sebesar Rp 5109,18. Jika harga beras lokal sama murahnya dengan harga beras internasional, maka tingkat konsumsi dapat berpotensi ditambahkan sebanyak 3,43 kg.

Selain itu, secara umum, penurunan tingkat konsumsi pangan berpengaruh secara signifikan terhadap kenaikan probabilitas suatu rumah tangga memiliki anak stunting. Penelitan CIPS memberikan contoh, misal dengan berkurangnya konsumsi daging sapi sebesar 1 kg akan meningkatkan probabilitas rumah tangga untuk memiliki anak stunting sebesar 1,52%.

“Konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia relatif rendah yaitu sebesar 2,399 kg dibandingkan dengan Filipina yang sebesar 3,25 kg dan Malaysia yang sebesar 4,8 kg. Kalau konsumsi daging sapi di Indonesia dapat menyamai angka tersebut, maka hal itu dapat menurunkan probabilitas stunting sebesar 0,41% dan 0,6% secara berurutan,” jelas Galuh dalam siaran pers CIPS, Selasa, (12/11/2019).

Sebagian kebijakan pangan yang diterapkan pemerintah saat ini terdapat unsur pembatasan / restriksi. Pemerintah menerapkan banyak kebijakan yang bersifat non tarif melalui regulasi-regulasi yang dikeluarkan oleh berbagai Kementerian yang membatasi keterlibatan Indonesia dalam perdagangan internasional. Kebijakan-kebijakan ini cenderung menyebabkan kenaikan harga pada komoditas pangan.

Beberapa restriksi pada kebijakan antara lain adalah, restriksi pada kebijakan beras dalam bentuk monopoli impor yang hanya dikelola Bulog (Permendag nomor 1 tahun 2018 pasal 16 ayat 1), restriksi pada daging sapi melalui pembatasan pelaku impor dan pembatasan akses pasar (Permendag 59/2016). Daging Ayam dan Telur terdampak dari peningkatan biaya produksi karena ada restriksi yang diberlakukan pada impor jagung untuk pakan.

Restriksi ini bentuknya adalah monopoli impor jagung untuk pakan hanya kepada Bulog dan juga adanya rapat koordinasi antar menteri sebelum mengimpor. Rangkaian proses ini berpotensi memperlambat pengambilan tindakan keputusan impor (Permendag 21/2018 Pasal 3 Ayat (1) dan (2). Perlu diketahui bahwa pakan jagung berperan pada 50-60% biaya produksi keseluruhan industri peternakan ayam dan telur. Sehingga kenaikan harga jagung akan berpengaruh pada kenaikan harga ayam dan telur.

“Swasembada pangan sebaiknya tidak lagi dijadikan cita-cita sektor pertanian Indonesia karena semakin sulit untuk dicapai. Banyak faktor yang memengaruhi, misalnya berkurangnya luas lahan pertanian dan semakin banyaknya jumlah penduduk. Pemerintah sebaiknya fokus pada bagaimana menyediakan pangan yang harganya terjangkau bagi semua lapisan masyarakat dan memastikan ketersediaannya,” ungkap Galuh.

Kementerian Kesehatan sendiri sudah menjalankan beberapa program terkait upaya penurunan angka stunting. Kementerian Kesehatan memiliki program intervensi stunting yang disebut Scaling Up Nutrition. Intervensi tersebut terbagi atas Intervensi Gizi Spesifik (fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Janin dan Ibu yang mengandung) dan juga Intervensi Gizi Sensitif (fokus dilakukan  melalui  berbagai  kegiatan  pembangunan  diluar  sektor  kesehatan). Selain dua program ini, masih ada berbagai program turunan dari intervensi tersebut, seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Program Makanan Tambahan (PMT) Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), dan lain sebagainya.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X