
hariansuara.com, Jember - Sumbangsih di sektor pertanian kabupaten Jember sebesar 30% untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), namun di tahun 2018 turun menjadi 27%. Menanggapi hal ini, bakal calon bupati Jember Hendy Siswanto menyatakan keraguannya bahwa angka itu kemungkinan masih bisa turun. Pasalnya, kenyataaan yang ada di lapangan hasil panen petani Jember bagus, tetapi harga jualnya turun dan dan tidak sebanding dengan biaya produksi.
"Hal ini yang jadi persoalan di sektor pertanian Jember," kata Hendy Siswanto dalam talkshow Sang Kandidat di Jember 1 TV dengan topik Bersama Membangun Jember belum lama ini.
Hendy Siswanto mengatakan kekuatan ekonomi di Jember ada di sektor pertanian dan perkebunan. "Kalau kita tidak benar membantu petani, justru akan jadi persoalan besar bagi Jember dan perekonomian di Jember," tuturnya.
Bagaimana dengan Jember sebagai penghasil kakao dan kopi yang mengalami penurunan? Hendy menegaskan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus segera dilakukan pendampingan terhadap petani Jember.
"Petani Jember menanam dan menghasilkan panen yang bagus. Namun produksi hulu dan hilirnya harus dipikirkan dan dilakukan pembenahan, pemerintah daerah harus memikirkan mulai dari meningkatkan eksportnya, sampai menjaga kualitas," katanya.
Pun dengan pendampingan seperti memacu peran petugas penyuluh lapangan yang harus lebih ditingkatkan dekat ke petani. Persoalan petani itu, kata Hendy, ada di ketersediaan pupuk dan bibit. Dua hal ini harus jadi perhatian dan pemerintah daerah harus membantu petani Jember, seperti pada saat panen raya, bagaimana membuat harga bisa stabil dan mensejahterakan petani.
Untuk komoditas kopi, menurut Hendy alangkah bagusnya, jika dilakukan fermentasi. Jadi petani tidak menjual hasil pertaniannya secara langsung. "Petani bisa melakukan fermentasi dahulu dan setelah kopi di fermentasi bisa langsung dijual karena harganya akan beda," imbuhnya.
Sementara untuk komoditas tembakau, Hendy menuturkan petani tembakau di Jember tetap eksis dalam artian hasil panennya bagus. Namun persoalannya, harga jual tembakau tidak bisa men-cover biaya produksi tembakau petani.
"Perlu adanya koordinasi antara pabrik penerima tembakau, petani tembakau dan gudang penyimpanan tembakau untuk meng-cover biaya produksi. Alangkah baiknya jika dilakukan kolaborasi antara pabrik rokok, petani tembakau dan pemerintah daerah dalam hal ini," tutur Hendy
Hendy mengatakan sektor pertanian di kabupaten Jember pernah mengalami masa kejayaan. Kejayaannya itu terjadi saat masa Bupati Abdul Hadi. Kala itu tembakau menjadi primadona. Tembakau diibaratkan seperti daun emas. Siapapun yang menanam tembakau, kebanyakannya akan berhasil dan sukses. Hal ini tidak berlaku pada tembakau saja, melainkan jenis pertanian lainnya seperti kopi dan komoditas lainnya.
"Jember adalah kabupaten agraris. Sektor pertanian harus menjadi nomor satu. Dengan majunya sektor pertanian, semua sektor juga akan ikut maju," pungkasnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU