Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Ternyata di Indonesia Praktik Sunat Perempuan Masih Banyak Ditemukan

Nasional
06 Feb 2020
Ternyata di Indonesia Praktik Sunat Perempuan Masih Banyak Ditemukan

hariansuara.com, Jakarta -  Data UNICEF 2016 mencatat lebih dari 200 juta perempuan dan anak-anak di seluruh dunia menjadi korban sunat perempuan. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan angka sunat perempuan tertinggi di dunia setelah Mesir dan Etiopia.

“Menurut laporan tersebut, separuh anak perempuan berusia di bawah 11 tahun atau sekitar 13,4 juta di Indonesia dipaksa mengalami praktik yang melanggar hak perempuan atas kesehatan, keamanan, kebebasan berpendapat, kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan itu,” papar aktivis Jaringan Perempuan Yogyakarta, Ika Ayu, Kamis (6/2/2020) dalam diskusi Membedah Mitos dan Fakta Tentang Sunat Perempuan di PSKK UGM.

Ika menyebutkan praktik sunat perempuan harus ditolak, sebab melanggar hak seksual dan reproduksi individu. Selain itu, praktik ini juga menjadi kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif dengan alasan moralitas dan agama, dan bentuk penundukan serta pendisiplinan seksualitas.

“Tak hanya itu, praktik sunat perempuan semakin menguatkan norma patriarki jika perempuan tidak sunat maka akan mengancam norma masyarakat. Patut ditolak karena juga tidak ada argumen medis yang menguatkan praktik ini harus dilakukan,”urainya.

Menurutnya,pemerintah Indonesia saat ini tidak memiliki kejelasan sikap terhadap sunat perempuan ini. Perbedaan pendefinisian antara Female Genital Mutilation (FGM) WHO dengan praktik sunat perempuan di Indonesia menjadi wilayah abu-abu yang menyebabkan ketidaktegasan sikap pemerintah. Inkonsistensi sikap pemerintah atas sunat perempuan menjadikan praktik ini semakin dianggap boleh dan perlu dilakukan oleh masyarakat tanah air.

“Negara perlu menunjukkan bukti konkret atas perlindungan dan pemenuhan hak seksual dan reproduksi setiap warganya dengan tidak membiarkan praktik sunat perempuan menjadi perlu dan wajar dilakukan,”tegasnya.

Sementara itu, aktivis Kesehatan Reproduksi, Mukhotib M.D., mengatakan terdapat beragam alasan dilakukannya sunat pada perempuan salah satunya sebagai bentuk kontrol bagi perempuan. Praktik tersebut dipercayai sejumlah kelompok masyarakat dapat mengontrol hasrat seksual perempuan.

“Perempuan harus baik, dalam pengertian ini tidak binal dan tidak ekspresif,” tuturnya.

Sunat perempuan, kata dia, masih saja ditemukan karena telah menjadi ajaran atau budaya secara turun temurun di masyarakat. Apabila praktik tersebut tidak dijalankan maka akan terjadi stigmatisasi masyarakat.

Menurutnya, sunat perempuan perlu ditolak karena selain tidak menunjukkan adanya keuntungan secara medis, praktik tersebut juga melanggar hak anak. Disamping itu, sunat perempuan menjadikan adanya ketidakpercayaan diri dan merasa menjadi korban.

Peneliti PSKK UGM, Sri Purwantiningsih, S.Si., M.Kes., menyampaikan praktik pemotongan atau perlukaan genetalia (P2GP) perempuan masih terus saja terjadi di tanah air. Bahkan, praktik tersebut sulit dihilangkan karena terjadi proses sosialisasi norma yang terkait dengan P2GP.

“Terjadi reproduksi kultural dalam rumah tangga. Nenek yang disunat cenderung menyunat anaknya (Ibu) dan Ibu yang disunat oleh neneknya juga cenderung menyunat anaknya,” kata Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Sri Purwantiningsih, S.Si., M.Kes.

Dari hasil kajian yang dilakukan oleh PSKK UGM pada 2017 dilakukan pada 4.250 rumah tangga di 10 provinsi Indonesia, sebanyak 87,3 persen responden mendapatkan informasi mengenai sunat perempuan dari orang tuanya. Doktrin agama dan juga tradisi di masyarakat menjadi alasan pelaksanaan sunat pada perempuan. Sebanyak 92,7 persen responden mengungkapkan perintah agama menjadi alasan untuk melakukan sunat perempuan dan 84,1 persen karena alasan tradisi.

“Sebanyak 97,8 persen responden mengatakan bahwa sunat perempuan perlu dilakukan,”ungkapnya.

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X