Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

KPAI: Orang Tua Harus Awasi Tontonan Anak

Nasional
08 Mar 2020
KPAI:  Orang Tua Harus Awasi Tontonan Anak

hariansuara.com, Jakarta -  Retno Listyarti, Komisioner KPAI, menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak berusia 15 tahun terhadap seorang bocah berusia 5 tahun karena dipengaruhi oleh tontonan film.

"Jika menyimak pada pengakuan anak pelaku bahwa perilakunya dipengaruhi oleh atau terinspirasi tontonan film “Chucky” dan Slender Man, maka kita dapat menyaksikan bersama bahwa media audio visual sangat kuat mempengaruhi perilaku seorang anak. Anak adalah peniru ulung dari apa yang dia lihat langsung di lingkungannya atau dia lihat melalui tayangan di televisi dan film," tutur Retno Listyarti, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, (8/3/2020).

Media audio visual seperti tayangan televisi dan film dapat mempengaruhi sikap dan perilaku  penontonnya. Tayangan televisi dan film bersifat audio visual sinematografis memang memiliki dampak besar terhadap perilaku penontonya, khususnya bagi yang belum memiliki referensi yang kuat, seperti  anak-anak dan remaja. Meskipun dampak tayangan tersebut bukanlah faktor tunggal, bisa saja ada factor lain yang memicu  perilaku delinkuen seorang anak.

Retno berujar delinkuensi adalah tingkah laku yang menyalahi norma  dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat.  Sebagian besar dari jumlah anak-anak delinkuen berasal dari keluarga berantakan (broken home). Kondisi keluarga yang tidak  bahagia dan tidak beruntung jelas membuahkan masalah psikologis personal danpenyesuaian diri yang terganggu pada diri anak-anak, sehingga mereka mencari kompensasi di luar lingkungan keluarga guna memecahkan kesulitan batinnya dalam bentuk perilaku delinkuen.

Audio visual itu daya pengaruhnya ke anak tinggi, apalagi kalau anak menonton tanpa pendampingan dan edukasi orang dewasa. Mereka belum sepenuhnya paham duduk persoalan, pertimbangan belum matang, cenderung menelan mentah-mentah apa yang mereka tonton dan  cenderung meniru apa yang mereka anggap keren. 

Oleh karena itu, disinilah pentingnya para orangtua untuk melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap apa yang ditonton anak-anak mereka, baik melalui televisi maupun aplikasi youtube, mengingat mayoritas anak sudah memiliki telepon genggam. 

"Kesalahan seorang anak tidak berdiri sendiri. Ada faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Pengasuhan yang positif dan Kepekaan orang dewasa disekitar anak sangat diperlukan, karena anak biasanya menunjukan tanda-tanda yang dapat dikenali ketika memiliki masalah.  Misalnya, perilaku anak pelaku yang pernah menyakiti hewan; dari gambar-gambar yang dibuat anak pelaku, dll. Andai orang dewasa di sekitar anak dapat memiliki kepekaan maka si anak dapat dibantu rehabilitasi psikologisnya, sehingga perilaku delikuensinya dapat di atasi, bahkan dihilangkan," tutur Retno. 

Anak pelaku sebenarnya memiliki potensi yang dapat dimaksimalkan untuk membangun kepercayaan diri dan menumbuhkan penghargaan terhadap dirinya, karena yang bersangkutan berprestasi olahraga tenis meja dan jago menggambar. Sayangnya potensi ini tidak dimaksimalkan oleh lingkungannya, di sekolah misalnya.  Pihak sekolah, seperti wali kelas dan guru Bimbingan Konseling semestinya juga memiliki kepekaan untuk menangkap perilaku delikuen si anak sehingga dapat menolongnya untuk mendapatkan bantuan psikologis. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X