Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Begini Analisis CSIS Soal Pergerakan Orang di Jakarta Saat Pandemi Covid-19

Nasional
11 Apr 2020
Begini Analisis CSIS Soal Pergerakan Orang di Jakarta Saat Pandemi Covid-19

hariansuara.com, Jakarta - Di saat pemerintah masih berpolemik soal larangan mudik bagi masyarakat, data menunjukkan telah terjadi pergerakan masyarakat yang cukup signifikan di (dan keluar dari) Jakarta sejak awal April 2020. Hal ini menunjukkan sekurang-kurangnya dua hal yaitu himbauan pemerintah agar tidak mudik sejauh ini tidak efektif mencegah pergerakan masyarakat, dan dengan sendirinya potensi penyebaran COVID-19 di luar Jakarta akan kian meninggi.

CSIS Indonesia menggunakan data Facebook Disease Prevention Map yang menunjukkan pergerakan orang-orang dari satu lokasi ke lokasi lainnya  Facebook Disease Prevention Map merupakan data agregasi yang didapatkan dari orang-orang yang mengaktifkan fitur lokasi di akun Facebooknya. Melalui data ini, tim Analisis Data Covid-19 CSIS bisa menganalisis penyebaran pergerakan orang-orang di Indonesia dalam waktu tertentu. 

Noory Okthariza Peneliti, Departemen Politik dan Perubahan Sosial, CSIS Indonesia, mengatakan data yang digunakan di sini terbatas pada tanggal 2 dan 3 April. Sebagian besar masyarakat di Jakarta bergerak di radius 40-60 Km. Tetapi ada juga pergerakan massa yang cukup besar hingga radius 500 Km dari Jakarta. Di atas 500 Km, pergerakan massa memang tidak begitu banyak. Tetapi ada beberapa titik yang cukup signifikan seperti di radius kurang-lebih 600 Km, 900 Km, dan 1400 – 1500 Km.

"Dengan kalkulasi sederhana kita bisa membuat dugaan sebagai berikut, jarak 40-60 Km berlaku bagi masyarakat yang commuting di Jabodetabek (bisa karena bekerja, mengunjungi kerabat, jalan-jalan, dsb). Angka ini paling tinggi jika dibandingkan dengan pengguna lain," tuturnya.

Hal Ini menunjukkan kecenderungan aktivitas masyarakat yang masih cukup mobile hingga awal April – meskipun PP No. 1/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar sudah diteken Presiden sejak 31 Maret. Perjalanan sejauh ini memungkinkan transmisi virus yang sulit terdeteksi dari satu tempat ke tempat lain di Jabodetabek.

Di sisi lain, jarak hingga 500 Km menunjukkan sebaran pengguna yang menuju kota-kota/kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta. Misalnya, taksiran jarak Jakarta Bandung (150 Km), Brebes (280 Km), Cilacap (380 Km) hingga Semarang (450 Km) masuk dalam kelompok ini. Sedikit di atas itu adalah Solo (540 Km) dan Yogyakarta (560 Km)

Sementara jarak 800 – 900an Km. dari Jakarta akan membawa kita ke Jember, Malang, dan Surabaya. Jika kita tarik garis ke arah Barat, jarak hingga 500 Km akan membawa kita ke Palembang, 900 hingga 1000 Km adalah di perbatasan Riau dan Jambi, dan jarak 1300 – 1400 Km adalah di Padang dan Bukittinggi.

Data-data ini menunjukkan bahwa pemberitaan terkait gelombang arus mudik di Sumatera dan (terutama) Jawa tampaknya memang benar adanya. Masyarakat tidak lagi menunggu Ramadan tiba, tetapi memanfaatkan waktu libur yang ditetapkan pemerintah untuk segera pulang ke kampung halaman.

Tanpa adanya langkah preventif yang konkret dari pemerintah, bisa jadi angka pergerakan ini akan semakin meninggi dalam beberapa hari ke depan. Dan mencapai puncaknya menjelang bulan Ramadan dan Lebaran.

Selain itu, menarik juga untuk melihat kaitan antara mobilitas orang-orang yang mengaktifkan fitur lokasi di Facebook ini dengan peningkatan kasus di provinsi-provinsi di pulau Jawa.

Per 3 April 2020, Orang Dalam Pemantauan (ODP) baru di Jawa Barat jumlahnya adalah 685.3 Angka ODP baru ini naik pesat menjadi 2365 pada 7 April (sementara angka mereka yang positif Covid-19 secara kumulatif dari 3 – 7 April naik dari 225 ke 343)4.

Di Jawa Timur, jumlah kasus terkonfirmasi adalah 52 pada 3 April 2020.5 Angka ini melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 194 (84 di antaranya berasal dari Surabaya) di tanggal 7 April6.

Di Jawa Tengah, total angka ODP melonjak drastis sekitar 60 persen dari 10.8737 tanggal 3 April 2020 menjadi 16.346 empat hari kemudian,8 sementara kasus positif naik dari 104 ke 133 pada periode yang sama.

Selain itu, pergerakan masyarakat di dua tanggal tersebut memiliki pola yang nyaris sama. Secara keseluruhan, tanggal 3 April (hari Jumat) menunjukkan pergerakan yang sedikit lebih banyak. Sedangkan tanggal 2 April lebih banyak disukai oleh mereka yang melakukan perjalanan jauh (di atas 1200 Km).

Hal ini barangkali menunjukkan bahwa tidak ada perubahan aktivitas yang mencolok di awal April bagi para pengguna Facebook di Jakarta. Jumlah masyarakat yang melakukan commuting di Jabodetabek (untuk alasan apa pun) kurang lebih sama dalam dua hari tersebut. Begitu pula jumlah mereka yang melakukan “mudik” ke kampung halaman.

"Jika kita lihat di tingkat nasional, aktivitas masyarakat yang masih mobile ini juga tetap tinggi. Kami menganalisis hampir 250.000 pengguna Facebook yang mengaktifkan fitur lokasinya pada tanggal 3 April. Hasilnya menunjukkan kebanyakan pengguna bergerak dalam radius 20 – 40 Km," tutur Noory.

Angka ini relatif tinggi dan tampaknya lebih dari cukup untuk meningkatkan transmisi Covid-19 antar wilayah tetangga. Angka ini menunjukkan lemahnya langkah-langkah yang diambil pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk “memaksa” masyarakat tetap di rumah. Atau bisa juga dibaca sebagai rendahnya compliance dari masyarakat untuk mengikuti himbauan agar tetap di rumah.

Selain itu, angka ini juga menunjukkan bahwa pergerakan antar daerah lintas provinsi di Indonesia tidak atau belum signifikan. Ini berbeda dengan Jakarta. Artinya, untuk saat ini mobilisasi sumber daya untuk mencegah pergerakan masyarakat bisa difokuskan di Jakarta.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X