
hariansuara.com, Jember – Gus Firjaun, sapaan KH Mohammad Balya Firjaun Barlaman, adalah pengasuh Ponpes As Shiddiqi Putra (Ashtra), Jember. Ia menjadi calon wakil bupati dari calon bupati Jember 2020-2025, H Hendy Siswanto, pada Pilkada 2020 yang digelar 9 Desember mendatang. Kedua tokoh ini menjadi harapan dari masyarakat Jember untuk memimpin dan mewujudkan masa depan Jember yang berakhlak, makmur dan sejahtera.
“Kabupaten Jember memang butuh pembenahan di banyak bidang ya, Mbak. Dari pertanian, kehutanan, kelautan, pariwisata, infrastruktur sampai gaya birokrasi yang sentralistis ini. Dibutuhkan sentuhan serius untuk membenahi semuanya,” ujar Gus Firjaun, putra dari KH Ahmad Shiddiq, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tahun ‘80-an, kepada hariansuara. 
Di antaranya, lanjut Gus Firjaun, semua pihak mesti mau dan bisa bersinergi secara baik. Sinergi ini diwujudkan melalui berkomunikasi, bekerja sama dan menjalin hubungan yang saling menghormati. Sebut saja, sinergi antara Bupati Jember (Pemerintah Daerah Kabupaten/Eksekutif) dengan DPRD Jember (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/legislatif). Bila sinergi ini benar-benar ada dan terjalin, pasti APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Jember tidak terlambat seperti sekarang. Pembangunan pun bisa berjalan dengan lancar, dan hak-hak rakyat Jember akan pembangunan tidak terabaikan.
“Utamanya, pemimpin itu mesti bertindak sebagai pelayan yang melayani rakyat. Pemimpin jangan bertindak sebagai penguasa, yang malah minta dilayani,” tandas Gus Firjaun, serius.
LAHIRKAN INSAN JEMBER YANG UNGGUL
Selain menciptakan harmonisasi pembangunan di segala bidang untuk mewujudkan masa depan Jember yang makmur dan sejahtera, Gus Firjaun bersama calon bupati Jember 2020-2025, H Hendy Siswanto, menilai sangat penting menyiapkan generasi baru Jember yang berkualitas. Pasalnya, di mana pun, maju-mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Pun di Jember, masa depan kabupaten yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia berpotensi ini membutuhkan sentuhan sungguh-sungguh dari insan-insan Jember yang berkualitas.
Seperti dikatakan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib RA di suatu kesempatan, dalam mendidik anak, orang tua mesti menyesuaikan dengan perkembangan zamannya. Bukan memaksakan mendidik anak ala zamannya orang tuanya. Artinya, sekarang ini dunia memasuki era teknologi digital, di mana hampir 65% penduduk dunia terhubung oleh internet. Bahkan dunia yang luas, karena terhubung oleh internet, telah menjelma menjadi a global village, sebuah kampung global yang terkoneksi. Teknologi digital dan internet harus dikuasai anak.
"Untuk itu, sejak pendidikan dasar, anak mesti diperkenalkan dan diajarkan teknologi digital untuk bisa menguasainya. Di samping tentunya juga menguasai ilmu pengetahuan lainnya serta menyerap ajaran agama. Inilah yang bisa kita sebut sebagai generasi penerus yang unggul, yaitu yang intelektualnya jalan, IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi)-nya jalan, dan IMTAK (iman dan takwa)-nya juga jalan,” urai Gus Firjaun.
Hemat Gus Firjaun lebih lanjut, seperti tercatat dalam sejarah, pesantren merupakan pusat bangsa kita menimba ilmu sebelum ada lembaga pendidikan formal seperti sekarang. Jadi, peran dan kontribusi pesantren sangat besar dalam melahirkan tokoh-tokoh pembaharu di Tanah Air dan memerdekakan bangsa kita dari penjajah.
“Sepatutnya, madrasah dan pesantren sebagai wadah pendidikan untuk memperbaiki akhlak, membina keimanan dan ketakwaan di mendapat prioritas yang seimbang agar semakin optimal melahirkan insan Jember yang unggul," ujar Gus Firjaun lagi.
PANCASILA SUDAH FINAL, JANGAN DIUTAK-ATIK
Di Tanah Air sempat ramai polemik tentang Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila atau RUU HIP. Tentang hal ini, Gus Firjaun mengatakan, bahwa Pancasila terbukti secara komprehensif yang telah merekatkan Indonesia yang plural dan heterogen menjadi satu bangsa yang berdaulat di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Persis seperti terekam dalam dokumen sejarah tertanggal 1 Juni 1945, Soekarno pernah menyitir “What is Nation” karya Ernest Renan, bahwa lahirnya sebuah bangsa karena kehendak untuk bersatu di tengah perbedaan etnis, agama, ras, dan golongan.
“Pancasila itu sudah final, jadi tidak usah diutak-atik lagi. Sebut saja, Sila I ‘Tuhan Yang Maha Esa’ menjelaskan bahwa bangsa Indonesia beragama. Jadi, seorang yang atheis, tidak percaya kepada Tuhan, tentu tidak bisa hidup di Indonesia. Bila kita menjalankan dan mengamalkan 5 sila dalam Pancasila secara baik, maka Indonesia akan damai dan sejahtera,” tukas Gus Firjaun di ujung bincang dengan hariansuara. (*) aini/mel, Foto: IST
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU