Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Pengamat Militer Dan Intelijen, Connie Rahakundini Bakrie Bantah PT DI Produsen Heli

Nasional
29 Apr 2017
Pengamat Militer Dan Intelijen, Connie Rahakundini Bakrie Bantah PT DI Produsen Heli

 

Jakarta – Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie menyangsikan, bila Indonesia dapat membangun industri pertahanan yang dapat disegani di tingkat global.

 

Menurut Connie, dibandingkan dengan negara Korea yang bisa dengan bangga memakai produk buatan dalam negeri, Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (PT DI) diragukan hasil produknya.

 

“Memang PT DI sudah bikin pesawat, namun belum bisa membuat heli yang bisa terbang dan mengakui bahwa heli itu buatan Indonesia,” ujar Connie dalam diskusi bertajuk "Penguatan Alutsista Melalui Transfer Teknologi" di Press Room Nusantara III Gedung DPR RI, Rabu (26/4) kemarin.

 

Menurut Connie, jika suatu negara tidak mempunyai industri pertahanan yang baik, maka negara tersebut menghadapi risiko. Dampak terbesarnya terutama pada operasional kesiapan pesawat.

 

Ia mencontohkan, sekitar tiga minggu lalu, PT DI menyerahkan dua pesawat Cougar kepada TNI Angkatan Udara (AU) di Lanud Atase Jaya. Tetapi dua pesawat tersebut tidak bisa terbang sempurna seperti pesawat sebelumnya. Karena sudah terlalu lama grounded di PT DI, ditambah lagi garansi pesawat sudah hilang.

 

“Jadi pertanyaan saya, bagaimana PT DI bisa membuat heli kalau untuk menerbangkan pesawat seperti Cougar saja harus menunggu bertahun-tahun. Dari sini akhirnya angkatan udara kita nggak bisa bergerak sama sekali, itu persoalan pertama,” tutur Connie.

 

Persoalan kedua adalah poros maritim dunia. Connie melihat poros maritim dunia sebagai ‘the big dream’. Dengan konsep itu, artinya Indonesia nantinya seperti Amerika. Yang bisa mencari sumber daya apa pun, di mana pun untuk kepentingan rakyatnya. Yang paling dekat untuk didatangi yaitu di Kutub Selatan.

 

”Karena kita punya hak disana (Kutub Selatan—Red), yang sekarang diambil Australia. Dari 49% yang diklaim Australia, 13% adalah milik Indonesia. Tapi karena kapabilitas kita tidak bisa ke sana, kita tidak akan pernah berani mengklaim itu.

 

Bicara mengenai kapabilitas, balik lagi ke industri pertahanan Indonesia yang tadi saya beri contoh, pesawat dikasih tetapi tidak bisa dipakai,” ungkap Connie.

 

Ia melanjutkan yang ketiga, posisi PT DI harus jelas. PT DI itu sebagai perakit, broker atau produsen. Jika merakit, maka PT DI bisa mengumpulkan sparepart dari beberapa negara untuk kemudian dirakit di dalam negeri. Sedangkan jika sebuah negara disebut produsen, adalah ketika dia membuat assembling line, mendesain, mengoordinasikan, menghubungkan sampai dia bisa menerbangkan pesawat. Dari sana bisa disebut pesawat buatan dalam negeri.

 

Selanjutnya terkait ToT (Transfer of Technology) sambung Connie, sudah tersedia sumber daya manusia, barang dan penggunaan konten lokal. Ia memiliki catatan tertulis mengenai nilai ToT dari pesawat Cougar yaitu 93% dari pembelian.

 

“Hanya 7% yang mau kita ributkan soal ToT dari sisi sumber daya manusia maupun barang. Sebanyak 93% kita serahkan langsung ke Prancis, di mana ToT-nya? Ini yang saya bilang. Sudah waktunya jujur. Apa kita mau main in hand atau pura-pura in hand? Karena yang akan menjadi korban adalah TNI. Kenapa yang jadi korban TNI? Karena TNI wajib membeli. Tidak ada industri pertahanan yang beli sipil, karena yang harus beli angkatan. Sekarang dipaksa, pesawatnya nggak bisa terbang, yang rugi kita sendiri. Nah kebohongan-kebohongan ini harus segera dibuka,” tutupnya. (Albi Wahyudi)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X