
hariansuara.com, Jakarta - Masyarakat dihebohkan dengan isu gempa kuat yang mengancam selatan Pulau Jawa dan berpotensi tsunami setinggi 20 meter. Isu yang dimunculkan pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini jadi polemik dan dikhawatirkan masyarakat.
Sejumlah pakar ilmu kebumian ITB menemukan potensi tsunami 20 meter yang diterbitkan dalam jurnal Nature Scientific Report.
Terkait itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan agar masyarakat tetap tenang dan jangan takut. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, tak menampik kepanikan publik akibat informasi potensi gempa megathrust terjadi karena adanya kesalahpahaman.
"Para ahli menciptakan model potensi bencana, ditujukan untuk acuan upaya mitigasi. Tetapi sebagian masyarakat memahaminya kurang tepat, seolah bencana akan terjadi dalam waktu dekat," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Senin, 28 September 2020.
Daryono mengakui kepanikan karena informasi potensi gempa megathrust sering terjadi dan berulang. Hal ini terus muncul sejak peristiwa tsunami Aceh 2004.
Dia menjelaskan kekhawatiran ini wajar. Sebab, setiap kali para ahli mengemukakan pandangan tentang potensi gempa dan tsunami.
"Kami berharap masyarakat terus meningkatkan literasi, selanjutnya tidak mudah 'kagetan' setiap ada informasi potensi bencana," jelas Daryono.
Menurut dia, lebih baik saat ini diberikan informasi terkait upaya mitigasi gempa. Cara ini dinilai lebih efisien karena Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan yang tinggi.
Isu gempa dan tsunami ini mulanya dipicu oleh sebuah temuan baru soal potensi gempa dan tsunami yang diungkapkan BMKG Bandung.
Bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), riset itu menyebut gempa megathrust yang berada di lempeng eurasia di Laut Lepas Jawa akan berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 20 meter menuju daratan. (*) ras/stm FOTO: Pasca tsunami di Palu, Sulteng/ANTARA-Basri Marzuki
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU