
Jakarta - Sebagai produsen batubara terbesar keempat di dunia, Indonesia harus memiliki roadmap untuk menjalankan pembangunan dengan tenaga batubara. Dengan roadmap maka Indonesia bisa mengaplikasikan teknologi batubara berefesiensi tinggi rendah emisi.
Hal tersebut disampaikan Chief Executive World Coal Association/Asosiasi Batubara Dunia (WCA), Benjamin Sporton, usai lokakarya bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Lingkungan Hidup, Selasa, kemarin.
“Teknologi tersebut memungkinkan Indonesia terusmenggunakan sumber daya batu baranya yang berlimpah dalam memenuhi permintaan energi yang terus meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sembari tetap memenuhi target pengurangan emisinya, " kata Benjamin, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/9/2016).
Menurut dia, pengurangan emisi dalam penggunaan produksi batubara sesuai dengan Perjanjian Paris. Dalam hal ini, Perjanjian Paris merupakan kesepakatan yang dirumuskan dalam ranah konvensi kerangka kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim (UNFCCC).
Kesepakatan konvensi untuk mengatur seputar mitigasi, adaptasi serta pembiayaan emisi gas rumah kaca mulai tahun 2020.
“Berdasarkan perjanjian tersebut, Indonesia memiliki komitmen tanpa syarat melalui Intended Nationally Determined Contributions (INDCs)-nya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar29% pada tahun 2030,” jelasnya.
Di sisi lain, dengan belum meratanya akses listrik karena masih 39 juta orang di Indonesia yang belum merasakannya maka pembangkit listrik tenaga batubara menjadi kebutuhan.
Diperkirakan Indonesia akan mengalami pertumbuhan pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 160% dari tahun 2013-2022 seiring berkembangnya ekonomi.
“Sejalan dengan itu, Indonesia dan sejumlah negara lain telah mengidentifikasi peran teknologi HELEsebagai bagian dari INDC mereka,” tuturnya.
Lanjutnya, kata dia, bahwa teknologi batu bara HELE penting untuk mengurangi CO2 dan emisi lainnya yang dihasilkan pembangkit listrik bertenaga batu bara. Bila dimaksimalkan maka negara bisa merasakan keuntungan dari listrik tenaga batubara.
“Teknologi batu bara HELE dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 35% dibandingkan denganteknologi sebelumnya yang kurang efisien. Ini berarti negara dapat merasakan keuntungan dari listrik bertenaga batu bara yang terjangkau,” sebutnya. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU