
Jakarta - Pemerintah berencana menghapus bahan bakar minyak (BBM) jenis ron 88 atau premium. Rencana ini dinilai sudah tepat karena penggunaan premium harus dipenuhi dengan cara impor.
Karena impor, acuan harga premium di pasar pun menjadi sulit. Potensi penyalahgunaan juga bisa terjadi.
“BBM jenis RON dibawah 90 acuannya atau jenis itu semakin sulit ditemukan sehingga acuan harga pasar jadi sulit, karena harus dipenuhi dari impor. Potensi penyalahgunaan semakin jelas karena semakin dikit,” kata pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegro saat dihubungi, Jumat (9/9/2016).
Mengacu harga pasar dunia, sudah jauh dibandingkan dengan Indonesia.
“Bahkan harga BBM dengan RON yang lebih tinggi, seperti BBM RON 92 bahkan lebih murah dari harga jual Premium RON 88 di Indonesia,” ujarnya.
Kemudian, kata dia, penggunaan premium juga dapat merusak mesin kendaraan. Selain itu, BBM di bawah RON 88 bisa mencemarkan lingkungan. Untuk penggantinya, Pertamina sudah menyiapkan BBM jenis pertalite.
“Sebagai penggantinya Pertamina telah memakai jenis Pertalite yang banyak tersedia dipasar spot dunia,” tutur dia.
Lanjutnya. penghapusan premium yang diajukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini akan dilakukan secara bertahap. Ditargetkan premium bisa dihapus pada 2025.
“Sebenarnya sudah disepakati sejak awal antara DPR RI dan pemerintah kalau memang rencananya akan dilakukan secara bertahap terhadap premium yang pada akhirnya sebelum benar-benar dihapus di 2025,” sebutnya. (*) Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU