
Jakarta - Sektor industri berbasis sumber daya alam diyakini bisa menjadi penggerak pembangunan ekonomi nasional. Diharapkan industri ini memberikan kontribusi besar dalam pembentukan daya saing produk nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin bidang perindustrian Johnny Darmawan mengatakan turunnya kontribusi industr pengolahan non migas terhadap produk domestik bruto mesti jadi perhatian.
“Perlu ditunjang dengan peningkatan nilai tambah dan daya saing industri berbasis sumber daya alam, lapangan kerja dan devisa, serta mampu memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan daya saing produk nasional di pasar global,” kata Johnny di Jakata, Selasa (20/9/2016).
Dijelaskan Johnny, berdasarkan data, kontribusi industri pengolahan non migas terhadap PDB pada 2004 masih tinggi sebesar 28,34 persen. Namun, pada tahun berikutnya terus mengalami penurunan sampai saat ini.
“Tahun berikutnya terus mengalami penurunan sampai saat ini yakni tahun 2013 sebesar 21,03%, 2014 sebesar 21,01% dan 2015 sebesar 20,84%,” ujarnya.
Menurut dia, adanya gejala deindustrilisasi menyebabkan adanya pemutusan hubungan kerja yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan.
"Jadi gejala deindustrialisasi ini mengakibatkan meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi sejak beberapa tahun belakangan," sebutnya.
Terkait hal tersebut, maka menurutnya, sektor manufaktur menjadi kunci untuk menghindari deindustrialisasi. Pasalnya, kata dia, sektor manufaktur yang kuat menjadi syarat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia.
"Transformasi ekonomi perlu dilakukan melalui peningkatan daya saing industri di pasar global. Di mana industri menjadi sentral dalam transformasi karena industri merupakan lokomotif pertumbuhan menuju negara maju," sebutnya.
Johnny menambahkan, strategi nasional perlu diarahkan untuk membangun industri yang berdaya saing tinggi, menciptakan nilai tambah domestik, serta berorientasi ekspor.
Makam, sejalan dengan program pemerintah, Kadin mendukung upaya pemerintah yang terus menjalankan hilirisasi industri untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan kerja serta peluang usaha di negeri sendiri.
"Berdasarkan data BPS, bahwa tahun ini diproyeksikan akan menjadi titik balik ekonomi kita. Setelah terus menurun dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan kembali naik menembus level 5 persen," tuturnya. (*) Albi Wahyudi/Hardani Triyoga
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU